RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, AMUNTAI - Iring-iringan ambulans yang membawa jenazah KH Husin Nafarin tiba di Pondok Pesantren (Ponpes) Rakha Amuntai sekitar pukul 16.10 Wita, Rabu (6/5/2026).
Puluhan mobil mengantar almarhum ke lokasi persemayaman, disambut ribuan jemaah yang telah menunggu.
Suasana duka menyelimuti kawasan Masjid Pancasila Ponpes Rakha Amuntai. Ribuan jemaah yang didominasi alim ulama, pejabat, santri, dan masyarakat umum memadati area masjid untuk mengikuti salat jenazah.
Karena jumlah pelayat yang terus berdatangan, salat jenazah dilaksanakan beberapa kali.
Salat jenazah dipimpin oleh mualim KH Syaukani Lc. Jemaah tampak khusyuk mengiringi doa bagi almarhum yang dikenal sebagai salah satu ulama kharismatik di daerah tersebut.
Kapolres Hulu Sungai Utara (HSU), AKBP Agus Nuryanto melalui KBO Lantas, Ipda Amin mengatakan pihak Kepolisian menerjunkan sekitar 20 personel untuk pengawalan dan pengamanan jalur.
“Usai salat kifayah, rombongan selanjutnya menuju Kabupaten Balangan melalui jalur Guntung HSU menuju Lampihong, Balangan,” ujarnya.
Ketua LPTQ Kabupaten HSU, H Husairi Abdi Lc menyampaikan wafatnya KH Husin Nafarin menjadi kehilangan besar bagi Banua. Almarhum dikenal sebagai ulama yang memiliki dedikasi tinggi dalam dakwah dan pendidikan keagamaan.
Sementara itu, Wakil Bupati HSU, Hero Setiawan yang hadir mewakili Bupati HSU mengenang sosok almarhum sebagai tokoh panutan yang memberikan banyak kontribusi bagi masyarakat dan pembangunan keagamaan di daerah.
Salah satu peserta salat jenazah, Hendri, alumni Ponpes Rakha sekaligus warga Amuntai mengaku sangat kehilangan atas wafatnya sang guru. Menurutnya, almarhum merupakan sosok yang sederhana namun penuh keteladanan.
“Beliau sangat dekat dengan santri dan masyarakat. Ilmunya luas, tapi tetap rendah hati,” tuturnya.
Jenazah selanjutnya diberangkatkan menuju Kabupaten Balangan untuk dimakamkan.
Ribuan pelayat turut mengantar kepergian almarhum sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Diketahui KH Husin Nafarin merupakan Ketua Yayasan Ponpes Rakha Amuntai sejak tahun 2012 sampai saat ini dan mantan Ketua MUI Provinsi Kalsel.
Editor : Fauzan Ridhani