RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Amuntai – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) menegaskan pentingnya data akurat sebagai fondasi utama pembangunan di Kabupaten HSU. Tanpa data yang tepat, kebijakan berisiko meleset.
Hal itu disampaikan dalam kegiatan Data Berbicara pada rangkaian Refleksi Hari Jadi HSU ke-74 di Aula Bapperida HSU, Rabu (6/5).
Kepala BPS HSU, Deddy Winarno mengibaratkan lembaganya sebagai “laboratorium” yang memproduksi data.
Sementara itu, organisasi perangkat daerah (OPD) bertindak sebagai “dokter” yang meracik kebijakan. “Kalau laboratorium salah memberi hasil, tentu sangat berbahaya. Karena itu, kami memastikan data yang dihasilkan benar-benar akurat,” tegasnya.
Dalam forum tersebut, BPS memaparkan analisis SWOT yang menggambarkan kondisi HSU secara komprehensif. Dari sisi kekuatan, HSU dinilai memiliki ketimpangan yang rendah, tercermin dari rasio Gini yang kecil.
Selain itu, potensi UMKM menjadi salah satu kekuatan utama. Ditopang kinerja sektor pertanian yang baik, inflasi yang terkendali, serta indikator kesetaraan gender yang cukup positif, posisi HSU dinilai cukup kuat.
Angka pengangguran juga relatif rendah, penurunan angka kemiskinan yang signifikan, tingginya harapan lama sekolah, serta ketersediaan infrastruktur dasar seperti listrik dan jaringan telekomunikasi turut menjadi modal pembangunan.
Namun, dibalik itu, masih ada pekerjaan rumah. BPS mencatat kemiskinan belum sepenuhnya teratasi dan pendapatan per kapita masih rendah. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga belum optimal.
Persoalan kesehatan menjadi sorotan, mulai dari tingginya angka kesakitan hingga kematian bayi. Ditambah lagi, konsumsi rokok yang tinggi serta minimnya regenerasi petani.
Tak hanya itu, arus keluar uang dari daerah yang lebih besar dibandingkan pemasukan menjadi sinyal kebocoran ekonomi. Sektor pertanian yang mendominasi juga belum sepenuhnya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dari sisi peluang, HSU memiliki modal besar berupa bonus demografi dan angka kelahiran yang moderat. Potensi pengembangan ternak itik dan kerbau rawa, serta optimalisasi produksi padi dinilai menjanjikan.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga disebut berpotensi menjadi penggerak ekonomi. Ditambah peluang investasi dari dana masyarakat serta tenaga kerja setengah menganggur yang bisa diserap ke sektor produktif.
Meski demikian, ancaman tetap mengintai. Mulai dari persaingan agribisnis dengan daerah tetangga, risiko banjir, hingga gangguan pertanian seperti gulma padi.
Dari sisi sosial, meningkatnya penyakit degeneratif berpotensi menurunkan kualitas hidup masyarakat.
Perubahan pola belanja dan sistem perdagangan juga bisa mengganggu stabilitas ekonomi daerah. Ditambah lagi, migrasi keluar yang lebih tinggi dibandingkan yang masuk.
Akademisi STIA Amuntai, Barkatullah, turut menyoroti kondisi ekonomi lokal. Ia menilai perputaran ekonomi di HSU masih banyak dinikmati pelaku usaha dari luar daerah.
“Contohnya pasar malam Kamis, banyak dikuasai pedagang dari kabupaten tetangga. Ini harus jadi perhatian agar ekonomi lokal tidak terus bocor,” ujarnya.
Dengan pemanfaatan data yang akurat, BPS berharap pemerintah daerah mampu merumuskan kebijakan yang tepat sasaran, sekaligus mengoptimalkan potensi besar yang dimiliki HSU.
Editor : M Oscar Fraby