Suasana berkabung tampak di kediaman KH Husin Naparin hingga Masjid Jami di Jalan Masjid Jami, Surgi Mufti, Banjarmasin Utara.
Anak angkat KH Husin Naparin, Gusti Taufiqurrahman menuturkan sekitar dua pekan yang lalu almarhum sempat dirawat intensif di RS Islam Sultan Agung, Banjarbaru.
Kondisinya sempat membaik dan diperbolehkan pulang. Tak bertahan lama, tepat tiga hari yang lalu, KH Husin Naparin kembali dilarikan ke RS yang sama.
“Hari Minggu masuk setelah asar, kemudian kondisinya menurun. Beliau meninggal dalam keadaan tenang pukul 8.10, namun observasi dokter memastikan pukul 8.30,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Taufiq kerap mendampingi almarhum selama perawatan bersama istri KH Husin Naparin, Hj. Unaizah Hanafie. Termasuk ketika di rawat di RSUD Ulin Banjarmasin pada awal Januari 2026 lalu.
Menurutnya, KH Husin Naparin mengidap sejumlah penyakit yang dinilai wajar karena kondisi umur yang sudah uzur yakni jantung dan gula darah.
Ia mohon doa untuk seluruh jemaah dan masyarakat Kalimantan Selatan. “Semoga almarhum mendapat rahmat dan diberikan kelancaran sampai prosesi pemakaman,” ucap Gusti Taufiq.
Warga, kerabat hingga pejabat datang melakukan takziah dan melaksanakan salat fardhu kifayah sekaligus salat zuhur di Masjid Jami.
Setelah itu, kata Taufiq, jenazah akan dibawa ke lingkungan Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) di Amuntai, Hulu Sungai Utara, untuk disalat fardhu kifayah lagi.
Di sana, almarhum dikenal sebagai Ketua Umum Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Rakha Amuntai serta sosok ulama yang berpengaruh dalam pembinaan generasi santri di daerah tersebut.
Setelah itu, jenazah akan dibawa lagi ke Desa Kalahiang, Paringin, Balangan untuk dikebumikan di kampung halaman asalnya.
“Beliau memang asli Balangan, sesuai wasiat minta makamkan di sana, berdekatan dengan makam ayah dan ibunya,” jelas Taufiq.
Hingga berita ini diturunkan, jenazah telah dalam perjalanan menuju Pondok Pesantren Rakha Amuntai, HSU.
Editor : Sutrisno