RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Calon Jemaah Haji (CJH) Kota Banjarmasin tahun 2026 didominasi kelompok berisiko kesehatan. Dari total 720 jemaah, lebih dari separuh masuk kategori risiko, mulai dari ringan hingga berat.
Data Kantor Kementerian Pelayanan Haji dan Umrah (PHU) Banjarmasin mencatat, 144 jemaah tergolong risiko berat, 151 risiko sedang, dan 192 risiko ringan. Sementara hanya 233 jemaah yang dinyatakan tidak berisiko.
“Mayoritas memang masuk kategori risiko. Ini menjadi perhatian serius karena menyangkut keselamatan saat beribadah,” ujar Kepala Kantor PHU Banjarmasin, H Ahmad Sya’rani.
Penilaian kesehatan dilakukan oleh Dinas Kesehatan melalui sistem kode warna: merah untuk risiko berat, kuning sedang, dan hijau ringan.
Sya’rani menegaskan, aspek kesehatan kini menjadi syarat utama keberangkatan melalui mekanisme istitha’ah. Jemaah yang tidak memenuhi syarat medis dipastikan tidak bisa melunasi biaya haji, sehingga otomatis batal berangkat.
“Ini bentuk perlindungan. Jangan sampai jemaah dipaksakan berangkat dalam kondisi membahayakan,” tegasnya.
Meski demikian, kondisi kesehatan jemaah masih bisa berubah. Jemaah risiko berat berpeluang tetap berangkat jika kondisinya membaik melalui pembinaan dan pemeriksaan lanjutan.
“Yang awalnya merah bisa turun jadi kuning bahkan hijau, asalkan rutin kontrol dan mengikuti arahan medis,” jelasnya.
Untuk memaksimalkan pemantauan, pihak PHU aktif berkomunikasi dengan jemaah melalui grup WhatsApp. Jemaah dapat berkonsultasi langsung dan diarahkan ke fasilitas kesehatan sesuai domisili.
Edukasi juga terus diperkuat, terutama saat manasik haji. Jemaah diingatkan menjaga kondisi fisik melalui pola makan sehat, istirahat cukup, dan aktivitas ringan seperti berjalan kaki.
“Ibadah haji membutuhkan fisik yang kuat, jadi harus dipersiapkan sejak sekarang,” ujarnya.
Ia juga mengakui kondisi kesehatan jemaah kerap naik turun menjelang keberangkatan, dipicu kelelahan dan stres.
“Ada yang sempat drop, tapi bisa pulih. Bahkan ada yang akhirnya berangkat di kloter berikutnya,” ungkapnya.
Meski didominasi jemaah berisiko, Sya’rani memastikan kesiapan keberangkatan secara umum dalam kondisi aman. Seluruh aspek pelayanan daerah, mulai dari transportasi hingga titik pelepasan, telah disiapkan.
“Secara umum aman, tidak ada kendala besar. Semangat ibadah tetap didukung, tapi kesehatan tetap nomor satu,” pungkasnya.