Kalsel Masih Aman dari Karhutla, Tapi Alarm Kemarau Sudah Menyala
M Fadlan Zakiri• Kamis, 30 April 2026 | 15:32 WIB
MEMADAMKAN: Petugas BPBD Kalimantan Selatan saat memadamkan api yang membakar lahan gambut di wilayah Kecamatan Liang Anggang (FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)
RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru - Risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan masih tergolong rendah meski suhu udara dalam beberapa waktu terakhir mulai meningkat.
Kepala BPBD Kalimantan Selatan, Ronny Eka Saputra, mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi masih turunnya hujan di sejumlah wilayah, sehingga kelembapan lahan tetap terjaga.
“Memang suhu udara terasa panas, namun hujan masih terjadi. Jadi risiko karhutla masih relatif rendah,” ungkapnya kepada awak media, Kamis (30/4).
Berdasarkan pantauan satelit BMKG, kenaikan suhu permukaan belum berdampak signifikan terhadap kondisi lahan, khususnya gambut.
Tinggi muka air yang masih berada di kisaran 30 sentimeter hingga 1,5 meter membuat lahan tetap basah dan tidak mudah terbakar.
“Selama tinggi muka air masih dalam batas perendaman, lahan gambut tetap aman,” jelasnya.
Meski demikian, BPBD Kalsel mulai meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada pertengahan Mei hingga September mendatang.
Sebagai langkah antisipasi, ujar Rony, saat ini Kalsel sudah menetapkan status siaga karhutla, dan tengahl mengintensifkan patroli di kawasan rawan, terutama lahan gambut.
Selain itu, surat edaran juga telah disampaikan kepada BPBD kabupaten/kota untuk memastikan kesiapan personel dan peralatan.
“Kalau perlu diperbaiki sekarang, kalau perlu diganti juga sekarang. Jadi saat terjadi karhutla, penanganan bisa optimal,” tegas Ronny.
Menurutnya, pengendalian tinggi muka air menjadi fokus utama dalam upaya pencegahan.
Jika terjadi penurunan, BPBD akan berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai untuk pembukaan pintu air guna menjaga kelembapan gambut.
“Kalau kanalnya kering, artinya gambut juga kering. Itu yang harus kita cegah,” katanya.
Sementara itu, kejadian karhutla yang muncul sejauh ini masih berskala kecil dan dapat ditangani di tingkat daerah.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran, baik hutan maupun sampah, yang berpotensi memicu kebakaran.
Selain itu, masyarakat diminta mulai mengantisipasi dampak kemarau dengan menyiapkan cadangan air dan menghemat penggunaannya.
“Kami harapkan masyarakat tidak melakukan pembakaran dan mulai bersiap menghadapi kemarau. Selama tinggi muka air terjaga, potensi karhutla bisa ditekan,” pungkasnya.