RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Amuntai – Suasana pagi di Desa Kota Raja, Kecamatan Amuntai Selatan, Selasa (28/4) terasa berbeda. Rombongan Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) datang dengan langkah tenang.
Bukan untuk seremoni besar, melainkan menundukkan kepala mengirim doa untuk para tokoh yang telah menorehkan sejarah.
Menjelang puncak Hari Jadi ke-74 Kabupaten HSU tahun 2026, Bupati HSU H Sahrujani memimpin langsung ziarah ke makam para pendiri daerah dan mantan kepala daerah.
Salah satu yang disambangi adalah makam mantan Bupati HSU, H Abdul Wahid.
Di tengah hamparan makam yang teduh, Sahrujani bersama Wakil Bupati Hero Setiawan dan Sekda Adi Lesmana tampak khusyuk.
Tabur bunga dilakukan dengan penuh penghormatan. Ziarah ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi menjadi ruang refleksi atas perjalanan panjang daerah.
“Jangan pernah melupakan sejarah. Jangan pula melupakan para tokoh pendiri Kabupaten HSU,” ujar Sahrujani usai ziarah.
Menurutnya, kemajuan daerah hari ini tidak lepas dari fondasi yang telah dibangun para pendahulu. Karena itu, momen seperti ini menjadi pengingat penting bagi generasi sekarang.
Wakil Bupati Hero Setiawan menambahkan, ziarah ini juga menjadi ajang memperkuat nilai kebersamaan dan rasa hormat terhadap jasa para pemimpin terdahulu.
“Apa yang kita nikmati hari ini adalah hasil kerja keras mereka di masa lalu,” singkatnya.
Hal senada disampaikan Sekda HSU Adi Lesmana. Ia menilai para tokoh Amuntai telah memberikan kontribusi besar, baik tenaga maupun pemikiran dalam membangun daerah.
“Semasa hidup, mereka telah banyak berbuat untuk kemajuan HSU. Kita wajib melanjutkan perjuangan itu,” ujarnya.
Momen haru juga terlihat dari keluarga almarhum. Istri mendiang H Abdul Wahid, Hj Anisah Rasyida, tampak hadir bersama keluarga.
Kedatangan rombongan pimpinan daerah tersebut disambut dengan rasa haru dan bangga.
Ziarah ini menjadi lebih dari sekadar ritual. Namun pengingat bahwa perjalanan sebuah daerah tidak pernah berdiri sendiri, melainkan hasil estafet panjang dari generasi ke generasi.
Di balik tabur bunga dan doa yang dipanjatkan, tersimpan pesan sederhana namun kuat: menghargai masa lalu adalah cara terbaik untuk menapaki masa depan.
Editor : Sutrisno