RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, MARTAPURA - Fenomena fatherless atau tanpa figur ayah di Kabupaten Banjar, jumlahnya cukup mencengangkan. Diperkirakan, puluhan ribu anak tumbuh tanpa keterlibatan ayah secara utuh. Bukan hanya ketiadaan fisik, tetapi juga absennya peran emosional dalam pengasuhan.
“Sekitar 33 ribu anak di Banjar mengalami kondisi fatherless, baik secara fisik maupun emosional,” beber Kepala Dinsos P3AP2KB Banjar, Erny Wahdini, Senin (27/4).
Ia mengakui, bahwa kondisi tersebut kini menjadi perhatian serius pihaknya. Tak ingin berdampak luas, pihaknya mulai melakukan intervensi melalui program penguatan ketahanan keluarga, salah satunya lewat Kelas Orang Tua Hebat.
Fenomena fatherless sebutnya memiliki kaitan erat dengan berbagai persoalan sosial di masyarakat. Kondisi ini berkorelasi dengan meningkatnya risiko kenakalan remaja, penyalahgunaan napza, putus sekolah, hingga perkawinan anak. “Karena itu, intervensi harus dimulai dari keluarga, khususnya peran ayah,” tegasnya.
Melalui program ini, pihaknya mencoba mengubah cara pandang masyarakat terhadap peran ayah. Tidak lagi sebatas pencari nafkah, tetapi juga sebagai pelindung, pendidik, dan teladan dalam keluarga. “Program ini tidak berhenti pada sosialisasi. Kami menyiapkan indikator keberhasilan yang terukur,” cetusnya.
Targetnya, minimal 75 persen peserta memahami peran ayah, terjadi peningkatan interaksi ayah dan anak, serta penurunan 10 persen kasus sosial seperti KDRT dan anak berhadapan dengan hukum dalam enam bulan.
Pihaknya akan membentuk komunitas ayah hebat di tingkat desa sebagai ruang belajar berkelanjutan. Kecamatan Martapura ditetapkan sebagai proyek percontohan. Sebanyak 30 orang akan dilatih menjadi “Ayah Penggerak” yang bertugas menginisiasi kelas ayah di lingkungan masing-masing. Program ini, diintegrasikan dalam kegiatan masyarakat seperti posyandu, pengajian, hingga forum RT.
Kuatnya stigma bahwa pengasuhan adalah tugas ibu, menjadi tantangan. “Masih ada anggapan seperti itu. Ditambah faktor kesibukan dan rasa gengsi dari para ayah untuk terlibat,” ujarnya.
Karena itu, pendekatan dilakukan melalui tokoh agama dan aparat desa agar pesan lebih mudah diterima masyarakat. “Peran ayah sangat strategis dalam membentuk karakter anak dan menjaga keharmonisan keluarga,” katanya.
Sisi lain, Ketua Tim Peneliti ULM, Rika Vira Zwagery, mengungkapkan keterlibatan ayah di Kabupaten Banjar masih menghadapi banyak kendala. “Faktor sosial, ekonomi, hingga budaya membuat peran ayah sering kali hanya dipahami sebagai pencari nafkah,” ujarnya, Kamis (23/4).
Padahal, menurutnya, kehadiran ayah dalam pengasuhan memiliki dampak besar terhadap perkembangan anak. Mulai dari aspek emosional, sosial, hingga kognitif. “Peran ayah itu bukan hanya ekonomi. Keterlibatan dalam pengasuhan sangat menentukan kepercayaan diri, kemampuan mengelola emosi, hingga prestasi anak,” jelasnya.
Sebagai informasi, data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menyebut, Indonesia menempati peringkat ketiga fatherless country. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) juga mencatat sekitar 20,9 persen anak di Indonesia tidak mendapatkan peran ayah secara aktif, baik secara fisik maupun emosional.
Kondisi ini dinilai berdampak langsung terhadap perkembangan anak, mulai dari aspek emosional, kepercayaan diri, hingga perilaku sosial.
Karena itulah, model keterlibatan ayah yang dirumuskan dalam kajian ini diharapkan tidak hanya menjadi bahan diskusi, tetapi benar-benar diimplementasikan dalam kebijakan daerah. “Pengasuhan bukan hanya tanggung jawab ibu. Ketika ayah hadir dan terlibat, kualitas generasi ke depan ikut ditentukan,” ujar Rika.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief