RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, KANDANGAN – Praktik penangkapan ikan dengan cara disetrum di Danau Bangkau kian meresahkan. Aktivitas ilegal ini bukan hanya menguras hasil tangkapan, tapi juga mengancam kelestarian ekosistem perairan.
Kepala Desa Bangkau, Syamsudin, mengungkapkan para pelaku diduga berasal dari luar daerah. Mereka masuk melalui jalur sungai yang terhubung hingga ke wilayah danau.
“Sekali setrum, ikan langsung mati dan mudah dipanen. Ini sangat merusak,” ujarnya, Senin (27/4/2026).
Tak hanya ikan besar, praktik ini juga membunuh benih ikan, memutus siklus reproduksi, dan mengancam masa depan perikanan warga setempat.
Meski demikian, warga tidak menutup akses bagi nelayan luar selama menggunakan cara tradisional yang ramah lingkungan, seperti jaring atau lukah.
Pengawasan terus diperketat. Pemerintah daerah bersama aparat dan masyarakat bergerak cepat merespons kondisi ini. Kepala Bidang Perikanan HSS, Fatmadiansyah, memastikan patroli rutin dilakukan.
“Kami berkoordinasi dengan kelompok pengawas dan Polairud. Setiap laporan langsung ditindaklanjuti,” jelasnya.
Selain pengawasan, upaya pemulihan juga dilakukan melalui penebaran benih ikan secara berkala untuk menjaga populasi.
Namun tantangan semakin kompleks. Pelaku kini menggunakan teknologi canggih yang sulit dideteksi. Bahkan, dalam patroli terbaru, aparat menemukan indikasi penggunaan drone untuk memantau pergerakan petugas.
Anggota Polairud, Bripda Fajar, mengungkapkan patroli gabungan kerap bocor.
“Ada drone saat kami patroli. Diduga untuk memantau pergerakan kami,” ujarnya.
Kondisi ini membuat aparat harus menyusun strategi baru agar praktik ilegal tersebut bisa dihentikan. Jika tidak, Danau Bangkau terancam kehilangan salah satu sumber penghidupan utama masyarakatnya.
Editor : Eddy Hardiyanto