Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Cakupan Imunisasi Tapin Terus Menurun, Dinkes Gencarkan Sosialisasi 

Rasidi Fadli • Jumat, 24 April 2026 | 16:05 WIB
WAWANCARA: Kepala Dinas Kesehatan Tapin Noor Ifansyah diwawancarai awak media Kabupaten Tapin. (Foto: Rasidi Fadli) 
WAWANCARA: Kepala Dinas Kesehatan Tapin Noor Ifansyah diwawancarai awak media Kabupaten Tapin. (Foto: Rasidi Fadli) 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Rantau – Penurunan cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) di Kabupaten Tapin menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan setempat.

Dalam tiga tahun terakhir, tren capaian terus merosot dan berdampak pada meningkatnya kerentanan masyarakat terhadap penyakit menular.

Kepala Dinas Kesehatan Tapin, Noor Ifansyah, mengungkapkan bahwa pada 2023 cakupan IDL masih berada di angka 98,5 persen. Namun pada 2024 turun cukup tajam menjadi 84,8 persen, dan kembali merosot pada 2025 hingga 78,03 persen.

“Jadi setiap tahun memang terjadi penurunan. Ini yang menjadi perhatian kami,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).

Ia menjelaskan, ada sejumlah faktor yang memicu penurunan tersebut. Salah satunya dampak pandemi Covid-19, yang membuat masyarakat enggan datang ke fasilitas kesehatan. Selain itu, maraknya informasi tidak benar terkait imunisasi juga turut memengaruhi.

“Ada anggapan imunisasi tidak halal atau menyebabkan penyakit, padahal itu tidak benar,” tegas Ifansyah.

Menurutnya, kondisi ini berdampak langsung pada menurunnya kekebalan kelompok (herd immunity). Semakin banyak bayi yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap, maka risiko penyebaran penyakit semakin tinggi.
Data Dinas Kesehatan Tapin mencatat, pada 2024 terdapat 4 kasus campak, 1 kasus pertusis, dan 1 kasus tetanus. Sementara pada 2025, kasus campak tercatat 3 kasus dan pertusis meningkat menjadi 2 kasus.

“Campak dan pertusis ini indikator sensitif. Ketika cakupan imunisasi rendah, penyakit ini mudah muncul karena sangat menular,” jelasnya.

Lebih jauh, ia menyebut rendahnya partisipasi masyarakat juga dipengaruhi oleh kurangnya pemahaman orang tua, terutama ibu, terkait manfaat dan jadwal imunisasi. Ditambah lagi dengan penyebaran hoaks mengenai efek samping vaksin, kandungan, hingga isu kehalalan.

“Dampaknya ada keterlambatan, bahkan penolakan imunisasi. Ini yang menyebabkan kepercayaan terhadap program kesehatan menurun,” katanya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dinas Kesehatan Tapin terus menggencarkan sosialisasi hingga ke tingkat kecamatan. Upaya ini juga melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama hingga kalangan wartawan.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Perlu dukungan semua pihak, termasuk media, untuk menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap, melalui sinergi lintas sektor ini, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya imunisasi dapat kembali meningkat sehingga capaian IDL di Kabupaten Tapin bisa kembali membaik.

Editor : Sutrisno
#Tapin #Rantau