RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru - Peringatan dini kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan mulai menguat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan fase awal musim kemarau sudah memicu penurunan kelembaban, yang ditandai dengan meningkatnya jumlah titik panas (hotspot).
Dalam 24 jam terakhir, hotspot di Kalsel tercatat naik signifikan. Dari 4 titik pada 23 April menjadi 7 titik pada 24 April 2026 atau meningkat sekitar 75 persen.
Kenaikan ini sekaligus menjadi indikator awal meningkatnya potensi kebakaran lahan.
Tak hanya bertambah, pola sebarannya juga berubah. Jika sebelumnya tersebar di sejumlah wilayah, kini hotspot mulai terkonsentrasi di daratan.
Seluruh hotspot tersebut berada pada tingkat kepercayaan menengah (level 8), yang mengindikasikan potensi kebakaran cukup kuat meski masih memerlukan verifikasi lapangan.
PMG Madya BMKG Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan, Yosef Luky Dwi Prasetya, mengatakan kondisi ini merupakan bagian dari fase peralihan menuju musim kemarau yang ditandai dengan tren penurunan curah hujan.
“Secara umum terjadi penurunan curah hujan menuju musim kemarau, meskipun tidak ekstrem di semua wilayah,” ujarnya.
Menurut Yosef, fase awal ini perlu diwaspadai serius karena berpotensi meningkatkan kekeringan, terutama di wilayah dengan lahan gambut dan vegetasi kering yang mudah terbakar.
Ia mengingatkan, tanpa langkah antisipasi sejak dini, risiko karhutla bisa meningkat seiring memasuki puncak musim kemarau pada pertengahan tahun.
“Potensi karhutla tetap ada. Karena itu, pencegahan harus dilakukan sejak awal agar kejadian seperti 2015 tidak terulang,” tegasnya.
Kondisi ini sejalan dengan peta tingkat kemudahan terbakar atau Fine Fuel Moisture Code (FFMC) yang dirilis BMKG.
Sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan saat ini berada pada kategori mudah hingga sangat mudah terbakar.
Vegetasi permukaan seperti alang-alang dan dedaunan dilaporkan mulai mengering, sehingga sangat rentan tersulut api.
Melihat kombinasi antara kenaikan hotspot dan kondisi bahan bakar yang kian mengering, risiko kebakaran di Kalsel diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa waktu ke depan.
Terlebih, pada kondisi kering, percikan api kecil dapat dengan cepat berkembang menjadi kebakaran luas.
Karena itulah, lugas Yosef, pihaknya mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran di lingkungan sekitar.
“Kesiapsiagaan bersama menjadi kunci. Jangan membuka lahan dengan cara membakar dan segera laporkan jika melihat tanda-tanda kebakaran,” tutup Yosef.
Pernah dalam Kondisi Darurat
Kalimantan Selatan pernah berada dalam kondisi darurat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2015. Skala bencananya masif.
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada sistem SiPongi mencatat, luas lahan terbakar mencapai 196.516,80 hektare.
Angka itu melonjak tajam dibandingkan 2014 yang hanya sekitar 4.022 hektare. Dalam setahun, luas kebakaran meningkat puluhan kali lipat.
Sebagian besar kebakaran terjadi di lahan mineral dengan luasan sekitar 183.184 hektare. Sisanya, sekitar 13.332 hektare, berada di lahan gambut.
Meski lebih kecil, kebakaran di gambut menjadi yang paling sulit dikendalikan karena api merambat di bawah permukaan.
Puncak kebakaran terjadi pada Agustus hingga Oktober 2015. Titik panas menyebar luas dan terkonsentrasi di sejumlah wilayah rawan. Di antaranya Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, Tanah Laut, hingga Barito Kuala.
Wilayah-wilayah tersebut didominasi lahan kering dan gambut yang mudah terbakar saat kemarau panjang.
Secara umum, di Kabupaten Banjar, kebakaran banyak terjadi di Kecamatan Martapura Barat dan Cintapuri Darussalam.
Sementara di Banjarbaru, titik api muncul di kawasan Landasan Ulin dan Liang Anggang.
Dampak langsung terasa di sektor transportasi udara. Kabut asap tebal membuat jarak pandang di Bandara Syamsudin Noor turun drastis.
Pada September 2015, visibilitas yang sering terjadi hanya 200 hingga 300 meter pada pagi hari. Padahal, batas aman penerbangan berada di kisaran 800 meter.
Akibatnya, puluhan penerbangan terganggu setiap hari. Banyak jadwal mengalami penundaan. Sejumlah penerbangan bahkan dibatalkan atau dialihkan ke bandara lain.
Di sektor kesehatan, dampaknya tak kalah serius. Dinas Kesehatan Kalsel mencatat lonjakan penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga puluhan ribu kasus. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan.
Kualitas udara saat itu masuk kategori berbahaya. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) berulang kali berada di level sangat tidak sehat hingga berbahaya.
Pemprov Kalsel pun menetapkan status Siaga Darurat, yang kemudian meningkat menjadi Tanggap Darurat.
Secara klimatologis, bencana ini dipicu fenomena El Niño kuat yang menyebabkan kemarau panjang. Vegetasi mengering, lahan gambut kehilangan kelembapan, dan api mudah menyebar tanpa kendali.
Editor : Sutrisno