Sebelum Jadi Agenda Daerah, Begini Cara Warga Pagatan Merayakan Pesta Pantai
Zulqarnain RB• Rabu, 22 April 2026 | 13:57 WIB
PESTA PANTAI: Arak-arakan kapal nelayan meramaikan Mappanre Ri Tasi’e di pesisir Pagatan, Tanah Bumbu. (Foto: Disbudporpar Tanah Bumbu)
RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Batulicin –Mappanre Ri Tasi'e atau Pesta Pantai Pagatan bukan sekadar perayaan musiman yang baru muncul kemarin sore. Tradisi ini telah hidup jauh sebelum Tanah Bumbu dikukuhkan sebagai daerah otonom pada 2003.
Ketua Lembaga Ade Ogi, Fawahisah Mahabatan, menuturkan bahwa pada masa lalu Pagatan bukan wilayah yang bergelimang kekayaan dari tambang atau perkebunan besar.
“Orang tua-tua di Pagatan dulu sering berseloroh: di sini mungkin tak ada orang kaya harta, tapi kami punya lain, empati dan kepedulian,” ujarnya.
Kehidupan masyarakat Pagatan bergerak mengikuti ritme laut dan pergantian musim. Dalam setahun, sekitar delapan bulan dihabiskan untuk melaut.
Ketika musim berganti, aktivitas itu berhenti sejenak. Kapal-kapal ditarik ke darat, dibersihkan, dicat, lalu diperbaiki. Masa jeda ini menjadi waktu untuk merawat apa yang selama ini menopang kehidupan mereka.
Memasuki April, kapal-kapal kembali diturunkan ke laut. Di situlah Pesta Pantai dimulai sebagai penanda sekaligus ungkapan syukur.
Menariknya, kemeriahan pesta ini tak lahir dari panggung-panggung besar pemerintah, tapi tumbuh secara organik dari rumah-rumah warga.
Masyarakat Pagatan membuka pintu, menyiapkan tempat tinggal bagi tamu, dan menyediakan hidangan bagi siapa pun yang datang.
“Di sini, tamu benar-benar ditempatkan sebagai raja,” kata Fawa.
Ia menjelaskan, masyarakat Pagatan memegang keyakinan bahwa dalam setiap rezeki yang diperoleh terdapat bagian orang lain. Karena itu, siapa pun yang datang akan disambut dan diberi makan tanpa perhitungan untung rugi.
Setiap prosesi, kata Fawa, mengandung makna.
Membersihkan kapal adalah bentuk ikhtiar. Kembali melaut melambangkan keberanian memulai kembali. Sementara berbagi makanan menjadi wujud syukur.
Bahkan tradisi memberi makan ke laut dipahami sebagai bagian dari menjaga keseimbangan ekosistem, memberi ruang bagi makhluk hidup lain untuk turut menikmati rezeki.