RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, KOTABARU – Denyut ekonomi di Pasar Limbur Raya, Kotabaru, kian melemah. Pasar yang dulu menjadi pusat keramaian warga Bumi Sa-Ijaan kini justru tampak lesu dan kehilangan daya tarik.
Pantauan di lokasi, Selasa (22/4/2026), lorong-lorong pasar terlihat lengang. Banyak kios nyaris tanpa aktivitas, sementara pembeli yang datang hanya segelintir dan tidak semuanya bertransaksi.
Para pedagang pun lebih sering duduk berbincang, menunggu pembeli yang tak kunjung datang.
Jennah, salah satu pedagang yang telah 20 tahun berjualan di pasar tersebut, mengaku kondisi saat ini adalah yang terparah sepanjang ia berdagang.
“Sekarang jauh lebih sepi dibanding dulu. Pembelinya sangat berkurang,” ujarnya.
Ia menuturkan, penurunan mulai terasa sejak pandemi Covid-19. Namun, alih-alih pulih setelah pandemi, kondisi pasar justru semakin tertekan.
Bahkan hingga siang hari, Jennah mengaku baru melayani satu pembeli dengan nilai transaksi yang sangat kecil.
“Hari ini baru satu orang beli, cuma Rp40 ribu. Sepi sekali,” ungkapnya.
Menurutnya, ada dua faktor utama yang membuat pasar tradisional semakin ditinggalkan. Pertama, maraknya belanja online yang lebih praktis. Kedua, melemahnya daya beli masyarakat.
“Orang sekarang lebih banyak belanja online. Selain itu, kondisi ekonomi juga membuat masyarakat lebih hemat, hanya beli kebutuhan pokok,” jelasnya.
Kini, para pedagang hanya berharap pada momen musiman seperti Ramadan dan Idul Fitri untuk mendongkrak penjualan.
“Biasanya ramai itu mendekati Lebaran. Pembeli banyak datang dari luar daerah, termasuk dari seberang pulau,” pungkas Jennah.
Editor : Eddy Hardiyanto