Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Potret Keberanian Anak Desa Rampa Kotabaru, Balapan Gabus di Laut hingga Melompat dari Atas Jembatan

Jumain Radar Banjarmasin • Senin, 20 April 2026 | 13:01 WIB
NEKAT: Salah satu anak Suku Bajau di Desa Rampa melompat dari atas jembatan setinggi 3-4 meter. (Foto:Jumain/ Radar Banjarmasin) 
NEKAT: Salah satu anak Suku Bajau di Desa Rampa melompat dari atas jembatan setinggi 3-4 meter. (Foto:Jumain/ Radar Banjarmasin) 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kotabaru - Jika anak perkotaan sibuk dengan handphone di tangan, pemandangan kontras terlihat saat Radar Banjarmasin jalan-jalan sore ke Desa Rampa, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kotabaru, Minggu (20/4). 

Di desa nelayan suku Bajau ini, laut adalah taman bermain paling mewah bagi anak-anak pesisir.

Sinar matahari yang mulai meredup tidak menyurutkan nyali para bocah ini. Sebaliknya, sore hari adalah waktu pesta dimulai. 

Ada yang asyik berenang adu cepat, ada yang berlarian bermain dan mengejar layang-layang di dermaga, hingga yang paling unik balapan perahu gabus.

Memanfaatkan kotak styrofoam (gabus) bekas wadah ikan, mereka mendayung dengan tangan kosong. 

Keseimbangan mereka tidak diragukan lagi, Anak-anak itu dengan santai sambil bercanda dengan teman yang lain. 

Tak tanggung-tanggung, mereka nekat meluncur hingga lebih dari 200 meter dari bibir dermaga. Bagi mata awam, aksi ini mendebarkan, namun bagi mereka, itu hanya urusan sepele.

Tak hanya itu, puncak keseruan terjadi saat adrenalin mulai dipacu. Satu per satu bocah ini naik ke atas pagar jembatan. Tanpa ragu, mereka melompat dengan gaya bebas, meluncur dari ketinggian sebelum akhirnya byur memecah permukaan air laut yang asin.

Aksi berbahaya ini justru menjadi tontonan yang mengundang tawa bagi warga setempat. Ketangguhan fisik anak-anak Suku Bajau yang seolah tak terpisahkan dari air laut memang sudah menjadi identitas turun-temurun.

Hamdani, salah satu nelayan senior di Desa Rampa, hanya tersenyum tipis melihat tingkah polah anak-anak tersebut. Baginya, laut adalah sekolah pertama bagi anak-anak Rampa sebelum mereka mengenal bangku kelas.

“Saya tidak terkejut. Dari dulu memang sudah begini kebiasaan anak-anak di sini. Orang tua pun tidak marah karena kami lahir dan besar dari air,” ungkap Hamdani.

Menurutnya, ia pun melewati masa kecil yang sama. Laut bukan untuk ditakuti, melainkan untuk disahabati. Inilah potret keseharian di Desa Rampa, sebuah harmoni antara manusia dan laut yang tetap terjaga di tengah gempuran zaman modern.

Sedangkan Anang Marendra salah satu masyarakat suku Banjar yang sudah menetap di pusat kota dari tahun 2000 an juga tidak merasa kaget melihat anak-anak di Desa Rampa ini. 

“Dari pertama saya datang ke sini mereka memang semua pemberani di laut, anak-anak mereka bebas bermain di laut, mungkin ya karena ini memang budaya mereka menyatu dengan laut,” beritahunya. 

Bagi Anang, di Desa Rampa ini paling unik se Kalimantan Selatan, mereka punya budaya dan ciri khas sendiri yang tidak dimiliki kabupaten kota lainnya.

“Saya sendiri bangga dengan Kotabaru, saya sudah lama tinggal disini, suku, budaya dan agama sangat beragam dan mereka hidup rukun berdampingan tanpa merasa satu lebih unggul dari pada yang lain,” bangganya.

Editor : Sutrisno
#Kotabaru #pesisir