RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Paringin - Meski saat ini intensitas hujan di Bumi Sanggam masih tergolong tinggi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Balangan memilih tidak ingin kecolongan.
Langkah siaga dilakukan lebih awal dengan menyiagakan 85 personel yang disebar hingga ke tingkat kecamatan untuk mengantisipasi ancaman kemarau panjang tahun 2026.
Kesiapsiagaan ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan prediksi BMKG, cuaca pada semester kedua tahun ini diperkirakan akan dipengaruhi oleh fenomena El Nino kategori lemah.
Kondisi tersebut diprediksi bakal membuat durasi musim kemarau lebih panjang dan kering, sehingga potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta krisis air bersih meningkat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Balangan, Jumaidil Hairi menjelaskan bahwa sebaran personel ini merupakan strategi untuk memperpendek jarak tempuh dan mempercepat waktu respons di lapangan. Pihaknya tidak ingin penanganan bencana hanya bertumpu pada posko induk di ibu kota kabupaten.
"Kami menyiagakan personel di posko induk dan kecamatan agar respons jika terjadi gawat darurat bisa lebih cepat. Saat ini memang belum terpantau hotspot karena masih sering hujan, namun melihat prediksi El Nino di semester kedua, kesiapan tidak boleh kendor," ujar Jumaidil, Selasa (14/4).
Secara teknis, kekuatan pasukan dibagi menjadi dua lapis. Sebanyak 45 personel bersiaga penuh di posko induk sebagai regu pemukul utama, sementara 40 personel lainnya ditempatkan di delapan kecamatan dengan porsi masing-masing lima personel per wilayah.
Sebagai langkah pendukung, BPBD Balangan telah merampungkan pemetaan zona merah karhutla bersama Manggala Agni. Sinergi ini bertujuan untuk mengunci titik-titik koordinat rawan berdasarkan rekam jejak bencana tahun-tahun sebelumnya.
"Dengan adanya peta koordinat ini, 85 personel yang disiagakan memiliki panduan patroli yang lebih akurat dan terukur," tambahnya.
Dukungan sarana pun mulai diperkuat. Lima unit mobil water supply telah diparkir di posko induk untuk mendukung pemadaman maupun distribusi air bersih ke desa-desa yang menjadi langganan kekeringan. Kelengkapan armada juga dipastikan telah siap operasional di seluruh kecamatan guna menghadapi puncak musim kering nanti.
Jumaidil juga mengingatkan petani agar tidak membuka lahan dengan cara membakar secara sembarangan. Imbauan ini terus digencarkan melalui sistem informasi Sigap agar masyarakat sadar akan bahaya karhutla, mengingat kondisi lahan akan jauh lebih mudah terbakar saat El Nino mulai menunjukkan pengaruhnya nanti.
Mitigasi yang dilakukan saat hujan masih sering turun ini diharapkan mampu meminimalisir risiko kabut asap, sehingga ketika kemarau panjang benar-benar tiba, seluruh instrumen penanggulangan bencana sudah dalam kondisi siap tempur.
Editor : Sutrisno