RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM - Pemerintah Kabupaten Balangan mulai memperketat mitigasi bencana menghadapi ancaman musim kemarau panjang tahun 2026. Berdasarkan prediksi BMKG mengenai potensi El Nino kategori lemah pada semester kedua, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah merampungkan pemetaan zona merah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Langkah pemetaan daerah rawan tersebut dilakukan dengan menggandeng Manggala Agni selaku Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Fokus koordinasi ini bertujuan untuk memastikan titik-titik koordinat yang memiliki rekam jejak kerawanan tinggi telah masuk dalam radar pengawasan intensif sebelum puncak kemarau melanda.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Balangan, Jumaidil Hairi menjelaskan bahwa meski status kewaspadaan telah ditingkatkan, pantauan satelit hingga awal April ini belum mendeteksi adanya titik panas atau hotspot di wilayah Bumi Sanggam. Hal ini dipengaruhi kondisi cuaca lokal yang hingga saat ini masih sering diguyur hujan.
"Wilayah Balangan awal April hingga saat ini belum terpantau adanya hotspot, karena Balangan sejauh ini masih ada diguyur hujan," ujar Jumaidil kepada Radar Banjarmasin.
Mengenai kekuatan lapangan, BPBD Balangan menyiagakan sedikitnya 85 personel yang disebar secara strategis. Sebanyak 45 personel atau tiga regu bersiaga penuh di posko induk Paringin, sementara di delapan kecamatan masing-masing ditempatkan lima personel guna mempercepat respons penanganan di tingkat wilayah.
Sektor armada pendukung juga diperkuat dengan menyiagakan lima unit mobil water supply di posko induk untuk keperluan distribusi air bersih maupun penanganan api. Selebihnya merupakan unit pemadam yang bersiaga di setiap kecamatan guna mengantisipasi krisis air bersih bagi desa-desa yang menjadi langganan kekeringan.
"Armada yang disiagakan di induk sejumlah lima buah yaitu water supply, sisanya pemadam. Selain itu juga ada di delapan kecamatan," tambahnya.
BPBD juga meminta petani tidak membuka lahan dengan cara membakar. Jumaidil Hairi menambahkan, pihaknya terus memberikan edukasi melalui sistem informasi Sigap di berbagai platform digital agar petani membuat sekat bakar di sekitar ladang untuk meminimalisir risiko kebakaran yang merembet ke kawasan hutan.
Kondisi kesiapsiagaan di tingkat birokrasi ini pun senada dengan geliat di tingkat bawah. Para petani mulai melakukan langkah mandiri untuk mengamankan ketersediaan air di lahan persawahan mereka di tengah fakta lapangan yang menunjukkan penurunan debit air sungai sudah mulai dirasakan.
Di kawasan Haur Batu, Kelurahan Baruh Ulin, para petani secara swadaya membangun pintu air sederhana di dua titik guna mengamankan pasokan air ke petakan sawah. Agus Suhandi, salah seorang petani setempat mengungkapkan bahwa keberadaan dua pintu air sederhana tersebut sangat krusial dalam mengairi persawahan di tengah tren penurunan air irigasi.
"Kondisi perairan di Haur Batu Baruh Ulin terpantau debit air sudah mengalami penurunan. Kemarin sudah dilakukan pembuatan pintu air sederhana sebanyak dua titik. Alhamdulillah itu mampu mengairi persawahan. Saat ini pintu air sudah mulai dibuka karena airnya sudah tidak dibutuhkan lantaran padinya sudah masuk tahap produksi masa panen," jelas Agus.
Agus menyebut, meski ancaman kemarau panjang menghantui, dampaknya diprediksi tidak akan mengganggu siklus padi utama karena mayoritas petani di wilayahnya hanya menerapkan pola tanam satu kali dalam setahun. Usai panen kali ini, lahan akan memasuki masa istirahat.
"Yang jelas itu masuk masa istirahat karena di wilayah pertanian kami, mayoritas melakukan tanam satu tahun. Jadi kemarau panjang kemungkinan tidak berpengaruh. Terkait rencana penanaman palawija, ada kemungkinan itu dilakukan karena musim kemarau panjang perlu diantisipasi," bebernya.
Para petani menitipkan harapan besar kepada Pemerintah Kabupaten Balangan agar intervensi yang diberikan ke depan tidak hanya terbatas pada bantuan fisik. Menurut Agus, bantuan yang diberikan nantinya bukan sekadar bibit, pupuk, atau obat, melainkan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
"Harapannya peningkatan SDM dan pelatihan pengolahan lahan secara efektif dan tidak merusak lingkungan," tegasnya.
Sementara itu, Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Riswandi mengatakan musim kemarau tahun 2026 berlangsung lebih lama. "Dari BMKG memprediksi kemarau tahun ini akan berlangsung lebih lama selama tujuh bulan, yang diperkirakan puncaknya dimulai sejak bulan Mei mendatang," ujar Riswandi.
Untuk menghadapi kemarau panjang yang berpotensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tersebut, pihak BPBD HSS sudah melakukan berbagai macam persiapan dari segi sarana dan prasarana.
"Kami sudah menyiapkan perlengkapan mesin, selang, serta unit mobil untuk operasional penanggulangan karhutla," tambah Riswandi.
Kemudian Kepala Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Hulu Sungai, Rahmad Riansyah menekankan kepada masyarakat agar selalu berhati-hati dalam pengelolaan lahan untuk keperluan berkebun dan lain-lain dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan.
"Menghadapi fenomena El Nino yang akan terjadi, kami minta kepada masyarakat agar selalu berhati-hati, jangan sampai cara kita untuk mengolah lahan itu malah menyebabkan kerugian yang lebih besar," jelas Rahmad.
Pihak KPH Hulu Sungai terus berusaha melakukan pendekatan kepada masyarakat, untuk bisa memahami fenomena-fenomena alam yang sedang terjadi salah satunya fenomena El Nino Godzilla yang akan menyebabkan terjadinya kemarau panjang.
"Dalam setiap kegiatan kami dengan masyarakat, kami selalu barengkan dengan pemberian sosialisasi terkait pengelolaan lahan untuk menghadapi berbagai macam fenomena alam," tambah Rahmad.
Kemudian untuk upaya penanganan karhutla, KPH Hulu Sungai mengimbau kepada masyarakat, apabila terjadinya kebakaran hutan agar segera melaporkan kepada KPH Hulu Sungai.
"Masyarakat jangan melakukan pemadaman sendiri, harus terorganisir dan melaporkan ke kontak pengaduan kami," tegas Rahmad.
Dikhawatirkan ketika masyarakat melakukan pemadaman sendiri, dengan pemahaman yang kurang tentang tahapan pemadaman, justru akan membuat masyarakat terjebak dalam kebakaran.
"Kita harus memperhatikan arah mata angin dalam melakukan pemadaman," pungkas Rahmad
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief