RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BATULICIN – Kesabaran warga Desa Segumbang, Kecamatan Batulicin, akhirnya habis. Belasan warga mendatangi kantor pusat PT Air Minum Bersujud, Senin (13/4/2026), memprotes buruknya distribusi air bersih yang sudah berlangsung lama.
Aksi ini dipicu krisis air yang tak kunjung teratasi. Warga RT 1 menjadi yang paling terdampak, bahkan ada yang mengaku tidak mendapat pasokan air hingga satu bulan penuh.
Kepala Desa Segumbang, Mustafinal, mengungkapkan persoalan ini bukan hal baru. Keluhan warga sudah terjadi sejak satu hingga dua tahun terakhir.
“Setiap bulan kami tetap bayar, tapi air tidak pernah mengalir,” tegasnya.
Ia menyebut, warga sudah empat kali mendatangi kantor perusahaan, namun belum ada solusi yang benar-benar dirasakan.
Sempat ada bantuan air menggunakan mobil tangki, namun hanya bersifat sementara dan kini sudah tidak lagi rutin diberikan.
Kondisi semakin sulit bagi warga. Di RT 2 dan RT 3, warga masih bisa bertahan dengan sumur bor meski hanya sebagai solusi darurat. Sementara warga RT 1 tak memiliki pilihan karena air tanah di wilayah mereka bercampur air asin akibat dekat muara.
Di sisi lain, pihak perusahaan memberikan penjelasan. Manajer Teknik PT Air Minum Bersujud, Dedy Tri Wahyudi, mengatakan gangguan terjadi akibat rendahnya tekanan distribusi.
“Secara suplai sebenarnya cukup, tapi tekanannya belum mampu menjangkau semua wilayah, terutama di ujung jaringan,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, penggunaan mesin penyedot air oleh sebagian pelanggan turut memperparah kondisi. Air yang tersedot di bagian awal jaringan membuat aliran ke wilayah belakang semakin lemah.
Selain itu, pertambahan jumlah pelanggan tanpa diimbangi peningkatan kapasitas juga menjadi penyebab.
Distribusi air sendiri berasal dari instalasi di KM 8 Desa Sarigadung, Kecamatan Simpang Empat, yang jaraknya cukup jauh. Air harus dipompa ke booster sebelum dialirkan ke wilayah pelanggan, termasuk Segumbang.
Gangguan listrik juga kerap memperlambat distribusi. Saat listrik padam, pompa berhenti, dan butuh waktu untuk menstabilkan kembali aliran.
Sebagai langkah darurat, perusahaan mengaku masih mengirimkan air menggunakan mobil tangki dan melakukan pengaturan distribusi.
Namun untuk jangka panjang, perbaikan jaringan dan peningkatan kapasitas menjadi solusi utama yang tengah disiapkan.
Bagi warga, janji solusi bukan lagi yang dibutuhkan—melainkan air yang benar-benar mengalir ke rumah mereka.
Editor : Eddy Hardiyanto