Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Lebih Lama dan Kering, Kemarau 2026 Diprediksi Berlangsung Tujuh Bulan

M Fadlan Zakiri • Sabtu, 4 April 2026 | 13:39 WIB
BAHAYA: Petugas BPBD Banjar memadamkan kebakaran lahan pada musim kemarau tahun lalu. (BPBD BANJAR)
BAHAYA: Petugas BPBD Banjar memadamkan kebakaran lahan pada musim kemarau tahun lalu. (BPBD BANJAR)

MARTAPURA - Musim kemarau 2026 di Kabupaten Banjar diprediksi datang lebih awal dan berlangsung lebih lama. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sebagian besar wilayah mulai memasuki kemarau sejak awal Mei 2026.

Wilayah yang lebih dulu terdampak meliputi kawasan perkotaan dan dataran rendah seperti Martapura, Martapura Timur, Martapura Barat, Gambut, Kertak Hanyar, Sungai Tabuk, hingga Tatah Makmur.

Periode awal kemarau di daerah tersebut umumnya terjadi pada dasarian pertama hingga kedua Mei.

Sementara itu, wilayah lain seperti Karang Intan, Astambul, hingga Aranio dan Paramasan yang berada di kawasan perbukitan juga diperkirakan mengikuti pola yang sama, meski dengan pergeseran waktu yang tidak terlalu jauh.

BMKG memprediksi seluruh wilayah Kabupaten Banjar akan mengalami sifat musim kemarau bawah normal.  Artinya, curah hujan selama periode kemarau berada di bawah 85 persen dari kondisi rata-rata.

Kondisi ini mengindikasikan potensi kekeringan yang merata di seluruh kecamatan.

Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dan mencakup hampir seluruh wilayah. Mulai dari kawasan padat penduduk seperti Martapura dan Gambut, hingga daerah hulu seperti Pengaron, Sambung Makmur, Sungai Pinang, dan Paramasan

Selain lebih kering, durasi kemarau di Kabupaten Banjar juga diprediksi lebih panjang dari biasanya.

BMKG mencatat lama musim kemarau berkisar antara 13 hingga 21 dasarian atau sekitar empat hingga tujuh bulan

Bahkan di sebagian besar wilayah, durasinya berpotensi bertambah lebih dari tiga dasarian dibanding kondisi normal. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh pola iklim global yang relatif netral, baik dari fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) maupun Indian Ocean Dipole (IOD).

Namun, penguatan angin monsun Australia mulai pertengahan tahun diperkirakan mempertegas fase kemarau di wilayah Kalimantan Selatan, termasuk Kabupaten Banjar.

Dengan kondisi tersebut, potensi dampak yang perlu diantisipasi antara lain berkurangnya ketersediaan air bersih, gangguan pada sektor pertanian, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah titik rawan.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan, Klaus Johannes Apoh Damanik, mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini, terutama dalam pengelolaan sumber daya air dan pencegahan kebakaran.

“Prediksi ini diharapkan menjadi acuan dalam menyusun langkah mitigasi, sehingga dampak musim kemarau dapat ditekan semaksimal mungkin,” tulis Damanik dalam laporan resminya. 

Editor : Arief
#karhutla #kalimantan selatan #banjarmasin #kemarau #cuaca