BARITO KUALA - Kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dan menjaga lingkungan mulai didorong melalui program pengabdian masyarakat berbasis ekonomi sirkular oleh Ikatan Keluarga Alumni Universitas Airlangga (IKA Unair) Kalimantan Selatan.
Program ini mengusung prinsip reduce, reuse, recycle (3R) untuk meminimalkan limbah sekaligus memaksimalkan pemanfaatan sumber daya.
Sebagai langkah awal, IKA Unair Kalsel berkolaborasi dengan Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Kalsel, Bank Sampah Induk Kalimantan Selatan, serta tokoh masyarakat di kawasan Handil Bakti, Kabupaten Barito Kuala.
Dalam pertemuan perdana, Senin (30/3/2026), dibahas dampak serius sampah—khususnya plastik—yang sulit terurai dan mencemari lingkungan.
Ketua IKA Unair Kalsel, Ellyana Trisya Hasnuryadi, menegaskan program ini tidak berhenti pada sosialisasi semata.
“Ke depan akan ada pendampingan berkelanjutan, pembentukan kader lokal, serta evaluasi agar sistem pengelolaan sampah bisa berjalan mandiri,” ujarnya.
Ia menambahkan, jika program ini terbukti efektif, model serupa akan dikembangkan ke wilayah lain dengan penyesuaian kondisi masing-masing daerah.
Direktur Bank Sampah Induk Kalsel, Fathurrahman, menyatakan kesiapan pihaknya menampung sampah yang telah dipilah masyarakat dengan sistem terorganisir.
Selain membantu mengurangi limbah, sampah tersebut juga memiliki nilai ekonomis karena dapat ditukar menjadi uang, meski nilainya relatif kecil.
“Prosesnya bertahap, mulai dari edukasi, pelaksanaan hingga penjemputan. Yang penting adalah membangun kebiasaan baru dari rumah,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan dampak serius dari pengelolaan sampah yang buruk. Timbunan sampah dapat menghasilkan gas metana yang jauh lebih berbahaya dibanding karbon dioksida dan berpotensi memicu ledakan.
Kasus tragis seperti longsoran sampah di TPA Leuwigajah pada 2005 menjadi pengingat nyata risiko tersebut.
Tak hanya di darat, pencemaran juga terjadi di perairan. Bahkan, kawasan luas di Samudra Pasifik dipenuhi sampah plastik.
Di Kalimantan Selatan, kondisi serupa mulai terlihat di Sungai Barito dan Sungai Martapura yang telah terpapar mikroplastik. Sejumlah ikan lokal seperti seluang, lais, nila, hingga puyau dilaporkan mengandung partikel tersebut.
“Ini bisa berdampak serius bagi kesehatan manusia, bahkan berpotensi memicu penyakit seperti kanker,” tegasnya.
Melalui program ini, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami pentingnya pengelolaan sampah, tetapi juga menjadikannya sebagai kebiasaan sehari-hari.
“Kalau setiap rumah tangga mampu mengelola sampah dengan baik, lingkungan juga akan ikut bersih,” pungkas Fathurrahman.
Editor : Eddy Hardiyanto