PARINGIN - Peristiwa banjir bandang yang pernah melumpuhkan Kecamatan Tebing Tinggi bakal diabadikan dalam bentuk buku dan film dokumenter. Langkah ini diambil Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Balangan untuk mengunci memori kolektif sekaligus menjadi rujukan otentik dalam memperkuat sistem mitigasi di masyarakat.
Pendokumentasian ini difokuskan untuk merekam kronologi, dampak, hingga pola penanganan saat bencana tersebut menerjang wilayah pegunungan Meratus. Dengan visualisasi dan narasi yang kuat, karya ini diharapkan tidak hanya menjadi pengarsipan daerah, tetapi juga alat edukasi yang efektif agar warga lebih waspada terhadap karakteristik ancaman banjir bandang.
Kepala Pelaksana BPBD Balangan, H Rahmi menegaskan bahwa proyek dokumentasi ini merupakan bagian penting dari strategi pengurangan risiko bencana. Menurutnya, pemahaman masyarakat terhadap sejarah bencana di wilayahnya sendiri adalah kunci utama dalam membangun kesiapsiagaan mandiri.
“Dokumenter ini kami siapkan sebagai pengingat sekaligus instrumen untuk memperkuat mitigasi. Kami ingin masyarakat melihat kembali fakta lapangan yang pernah terjadi agar kesadaran terhadap perlindungan lingkungan dan kewaspadaan bencana semakin tertanam,” ujar H Rahmi, Rabu (18/3).
Dalam proses penyusunannya, tim mulai menghimpun data teknis, footage rekaman orisinal saat kejadian, hingga kesaksian para penyintas di lapangan. Pendekatan berbasis data dan fakta ini bertujuan agar informasi yang tersampaikan memiliki akurasi tinggi bagi kepentingan riset maupun sosialisasi kebencanaan ke desa-desa.
Guna mematangkan proyek tersebut, BPBD Balangan juga telah melaksanakan koordinasi teknis untuk menyelaraskan persepsi dan menghimpun informasi sisa-sa kejadian di Kecamatan Tebing Tinggi. Pertemuan ini menjadi dasar bagi tim produksi dalam menyusun kerangka narasi yang utuh dan komprehensif.
“Intinya ini menjadi media edukasi. Kita tidak ingin melupakan sejarah bencana, karena dari sana kita belajar bagaimana cara menyelamatkan diri dan meminimalisir risiko jika sewaktu-waktu ancaman serupa kembali datang,” tambah Rahmi.
Hasil akhir dari proyek ini nantinya akan disebarluaskan sebagai bahan literasi kebencanaan. Dengan demikian, diharapkan tidak ada lagi kesenjangan informasi mengenai potensi bahaya di wilayah rawan, sehingga masyarakat bisa bertindak lebih cepat dan tepat saat menghadapi situasi darurat.
Editor : Arif Subekti