BANJARMASIN - Akses air bersih masih menjadi persoalan bagi sebagian warga di kawasan Pulau Bromo ujung, Kecamatan Banjarmasin Selatan. Bukan karena jaringan air tidak tersedia, melainkan keterbatasan biaya membuat sejumlah warga belum mampu memasang sambungan ledeng.
Di kawasan tersebut, lebih dari sepuluh rumah tangga yang ditemui mengaku masih mengandalkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mencuci dan mandi.
Sementara untuk memasak atau minum, mereka membeli air dari tetangga yang sudah memiliki sambungan ledeng dari PTAM Bandarmasih.
Salah seorang warga, Mastah, mengaku sudah lama ingin memasang ledeng, namun biaya pemasangan yang mencapai sekitar Rp2 juta membuatnya mengurungkan niat.
“Dulu sempat ingin pasang sekitar Rp2 juta, tapi tidak jadi sampai sekarang,” ujarnya saat ditemui, Kamis (12/3/2026).
Mastah yang bekerja sebagai pengupas udang mengatakan penghasilannya tidak menentu.
Ia hanya mendapat upah sekitar Rp5 ribu per pelanggan dan rata-rata hanya memperoleh sekitar Rp20 ribu per hari.
“Sekarang susah cari kerja, pendapatan juga sulit,” katanya.
Hal serupa juga dialami Humairoh, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan yang sama.
Ia sempat berniat memasang ledeng pada 2024 setelah mendengar biaya pemasangan dari tetangganya hanya sekitar Rp800 ribu.
Namun setelah mengajukan pemasangan, biaya yang harus dibayar ternyata mencapai sekitar Rp1,7 juta, belum termasuk biaya penggalian dan pembelian selang.
“Kalau ditotal bisa lebih dari Rp2 juta. Saya tidak sanggup,” keluhnya.
Untuk kebutuhan air minum dan memasak, Humairoh harus membeli air dari tetangga yang memiliki sambungan ledeng. Ia bahkan harus memikul jeriken air melewati titian menuju rumahnya.
Sementara untuk mencuci dan kebutuhan lainnya, ia masih menggunakan air sungai. Kondisi itu juga membuat sejumlah peralatan rumah tangga cepat rusak, termasuk mesin cuci dan pompa air miliknya.
“Air sungai ternyata bergeladak, jadi mesin cepat rusak,” katanya.
Humairoh berharap biaya pemasangan ledeng bisa lebih terjangkau bagi masyarakat kecil, sehingga warga tidak lagi bergantung pada air sungai untuk kebutuhan sehari-hari.
Sementara itu, konfirmasi kepada pihak PTAM Bandarmasih masih menunggu jadwal wawancara dengan pejabat terkait. Permintaan wawancara telah diajukan sejak Rabu (11/3/2026), namun hingga kini belum mendapat respons lanjutan.
Editor : Eddy Hardiyanto