BANJARMASIN - Program Upaya Berhenti Merokok (UBM) oleh sejumlah Puskesmas di Banjarmasin masih jalan di tempat. Kurang diminati masyarakat, khususnya bagi kalangan perokok aktif.
Salah satunya, di Puskesmas Banjarmasin Indah, di Jalan Cempaka Raya, Kelurahan Telaga Biru, Kecamatan Banjarmasin Barat.
Kepala Puskesmas Banjarmasin Indah, Chusna Farida mengatakan, program UBM dengan layanan konseling dan penyuluhan hanya menerima 15 peserta sepanjang 2024.
Padahal, skrining status merokok juga sudah dilakukan di semua wilayah layanan Puskesmas Banjarmasin Indah.
Ia merasa keberhasilan UBM dalam meningkatkan berhenti merokok masih perlu ditingkatkan melalui pendampingan berkelanjutan dan motivasi yang besar dari pasien.
“Sebagai layanan kesehatan primer berperan penting dalam membantu masyarakat berhenti merokok. Karena itu, diperlukan evaluasi untuk menilai efektivitas pelayanan UBM,” ujarnya. Selasa (10/2/2026).
Evaluasi ini dilakukan meliputi kegiatan konseling, penyuluhan, skrining perokok, tindak lanjut dari peserta dan kerja sama lintas sektor.
Chusna mengakui, keberhasilan program UBM tak luput dari faktor penunjang dan hambatan yang dialami pasien, terutama disiplin tentang keputusan berhenti merokok.
Dukungan keluarga sangat menentukan keberhasilan pasien, ketersediaan fasilitas konseling reguler di Puskesmas dan pendampingan melalui aplikasi seluler untuk sejumlah peserta.
Di sisi lain, hambatan kepada pasien bisa terjadi akibat paparan lingkungan yang masih kuat menggoda untuk merokok, kurangnya kesadaran dan manfaat jangka panjang dan keterbatasan akses obat pengganti nikotin untuk peserta.
Ia menegaskan, pihaknya dan petugas tenaga kesehatan (nakes) tetap berkomitmen penuh dalam mendukung menajemen, SOP dan keterlibatan kader dalam program UBM. “UBM memang sudah berjalan, namun perlu penguatan agar capaian berhenti merokok meningkat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Pokja Penyakit Tidak Menular (PTM), Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Banjarmasin, Irmah Setiawaty menyatakan UBM sudah ada di 28 Puskesmas sejak lama.
Namun, statusnya dikatakan berjalan apabila masih menangani pasien yang ingin berhenti merokok di Klinik UBM di sejumlah Puskesmas, walau hanya satu orang. “Sewaktu-waktu bisa belum berjalan jika tidak ada pasien atau yang ingin konsultasi untuk berhenti berokok,” ungkapnya.
Terkait pengawasan program, pihaknya selalu mendorong Puskesmas menerima inisiatif calon pasien maupun mendorong masyarakat yang mengalami gejala kesehatan diduga akibat merokok, utamanya saat pertemuan evaluasi program dari PTM P2P Dinkes Banjarmasin.
“Selalu kami sampaikan ke Puskesmas untuk identifikasi dan penyuluhan untuk didorong apakah mau berhenti. Jika mau diobservasi kita diarakan ke klinik UBM,” terangnya.
Selain inisiatif pasien, Dinkes Banjarmasin juga menyoroti keaktifan pengelola program agar UBM benar-benar menekan angka perokok aktif, terutama bagi masyarakat yang sudah menyatakan minat berhenti merokok.
Irmah memastikan, klinik UBM di sejumlah Puskesmas yang sudah berjalan dilengkapi fasilitas dan nakes terlatih. Mereka disiapkan khususnya untuk menangani pasien kategori kecanduan. Terdiri dari dokter, perawat maupun nakes yang berkompetensi di bidang kesehatan masyarakat.
Editor : M Oscar Fraby