Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Mamanda Menghidupkan Malam Akhir Pekan di Banjarbaru! Budaya Tumbuhkan Ekonomi Kreatif

Sheilla Farazela • Minggu, 8 Februari 2026 | 12:55 WIB
JENAKA: Pentas teater tradisional Mamanda berlangsung meriah di panggung terbuka Taman Van der Pijl, Banjarbaru, Sabtu (7/2/2026) malam.
JENAKA: Pentas teater tradisional Mamanda berlangsung meriah di panggung terbuka Taman Van der Pijl, Banjarbaru, Sabtu (7/2/2026) malam.

BANJARBARU — Taman Van der Pijl tak seperti biasanya pada Sabtu (7/2/2026) malam.

Riuh tawa anak-anak, obrolan orang tua, dan sorot mata penonton menyatu di pelataran taman yang dipenuhi warga.

Malam itu, warga Banjarbaru tidak sekadar mencari hiburan.

Mereka datang untuk bertemu kembali dengan identitas budaya Banua: Mamanda.

Pementasan bertajuk “Pentas Mamanda dan Silaturahmi Paguyuban/Komunitas Seni Banjarbaru” menjadi ruang temu antara seni tradisi dan semangat ekonomi kreatif yang terus tumbuh.

Sejak sore, ratusan warga telah memadati area taman.

Saat lampu panggung menyala, perhatian langsung tertuju ke satu titik.

Dialog spontan yang jenaka, kostum kerajaan yang mencolok, serta interaksi aktor dengan penonton menciptakan suasana akrab.

Mamanda kembali menunjukkan kekuatannya: dekat dengan rakyat, hidup, dan relevan.

Kisah Putri Raja Kencana Emas yang menuntut ilmu ke Puncak Gunung Karamunting menjadi pusat cerita.

Perjalanan sang putri bukan sekadar dongeng, melainkan simbol harapan tentang negeri yang adil, maju, dan sejahtera—pesan yang terasa kontekstual dengan kehidupan hari ini.

Ketua Umum Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Banjarbaru, H Riandy Hidayat menegaskan bahwa pementasan ini lebih dari sekadar pertunjukan seni.

“Ini adalah wujud tekad kami menjadikan Banjarbaru sebagai kota ekonomi kreatif di Kalimantan Selatan. Budaya harus terus hidup dan terintegrasi dengan inovasi ekonomi modern,” ujarnya.

Menurut Riandy, Mamanda merupakan ekosistem ekonomi kreatif yang utuh.

Di balik panggung, banyak peran terlibat—penjahit kostum, penata artistik, musisi, hingga pelaku UMKM yang ikut bergerak.

“Inilah esensi ekonomi kreatif. Budaya tidak hanya dirawat, tetapi juga diberdayakan dan menciptakan nilai ekonomi,” tambahnya.

KEK Banjarbaru saat ini juga memperkuat kolaborasi dengan Indonesia Creative Cities Network (ICCN) melalui program Catha Ekadasa.

Program ini mengusung strategi kolaborasi hexa helix yang melibatkan pemerintah, komunitas, akademisi, dunia usaha, media, dan sektor lainnya.

Riandy menyebut, kegiatan di Taman Van der Pijl menjadi langkah awal menghidupkan ruang publik lewat aktivitas seni secara rutin.

“Ke depan, minimal setiap bulan ada pertunjukan. Tidak hanya Mamanda, tapi juga kesenian lain agar ruang publik hidup dan ekonomi budaya semakin kuat,” katanya.

Antusiasme warga terasa sepanjang pertunjukan.

Tawa pecah saat dialog improvisasi dilontarkan, sementara sebagian penonton tampak larut mengikuti alur cerita hingga akhir.

Wali Kota Banjarbaru Hj Erna Lisa Halaby turut hadir dan menyaksikan pementasan hingga selesai.

Kehadirannya menjadi simbol dukungan pemerintah terhadap pelestarian budaya lokal.

Pegiat budaya H.E. Benjamin mengapresiasi langkah KEK Banjarbaru.

“Banjarbaru punya banyak ruang kreatif yang bisa dimaksimalkan. Ini modal besar untuk menjadi kota kreatif, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga dunia,” ujarnya.

Editor : Eddy Hardiyanto
#Budaya #banjarbaru #Ekonomi Kreatif #mamanda