RANTAU – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Tapin terus memperkuat pelayanan publik dengan menghadirkan inovasi Jembatan (Jemput Bola Pembuatan Dokumen Penduduk Rentan).
Program ini menyasar kelompok disabilitas dan lanjut usia (lansia) yang selama ini mengalami keterbatasan dalam mengakses layanan administrasi kependudukan secara mandiri.
Kepala Disdukcapil Tapin, Rina Indriani mengatakan pelayanan dilakukan dengan metode jemput bola, yakni mendatangi langsung warga untuk melakukan perekaman dan pengurusan dokumen kependudukan.
“Pelayanan ini kami lakukan untuk memastikan warga tetap memiliki dokumen kependudukan, terutama mereka yang mengalami hambatan dalam mengakses layanan adminduk secara mandiri,” ujarnya, Kamis (5/2/2026).
Menurut Rina, inovasi Jembatan menjadi terobosan penting dalam menjangkau penduduk rentan, khususnya penyandang disabilitas dan lansia yang sulit datang ke kantor pelayanan.
Berbagai kendala kerap dihadapi kelompok ini.
Mulai dari keterbatasan fisik, kondisi kesehatan, hingga faktor jarak dan akses geografis di wilayah pelosok.
“Banyak lansia dan penyandang disabilitas yang tidak memungkinkan datang ke kantor kami. Ada juga warga yang belum memiliki dokumen pendukung lengkap sehingga perlu pendampingan khusus,” katanya.
Padahal, dokumen kependudukan seperti KTP elektronik dan kartu keluarga merupakan syarat utama untuk mengakses berbagai layanan publik, mulai dari BPJS Kesehatan, bantuan sosial, hingga program pemerintah lainnya.
Melalui Jembatan, Disdukcapil Tapin mengubah pola layanan dari pasif menjadi proaktif, dengan mendatangi langsung masyarakat yang membutuhkan.
“Ini bagian dari komitmen kami memastikan tidak ada warga yang tertinggal. Negara harus hadir untuk semua, tanpa terkecuali,” tegasnya.
Ke depan, Disdukcapil Tapin berharap inovasi ini dapat terus diperluas agar seluruh penduduk rentan di daerah tersebut memperoleh hak administrasi kependudukan secara adil dan inklusif.
"Sehingga seluruh penduduk rentan di Tapin dapat terpenuhi hak-hak administrasi kependudukannya secara adil dan inklusif," tutupnya.
Editor : Eddy Hardiyanto