Mereka mengikuti Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) Semester I Tahun 2026 sebagai pembuktian hasil latihan selama enam bulan terakhir.
H Pawahisa Mahabatan Ketua Umum Pengurus Provinsi INKAI Kalimantan Selatan, Senin (2/2) siang kepada Radar Banjarmasin menegaskan, UKT ini bukan sekadar seremoni rutin. Melainkan instrumen vital untuk menjaga standar mutu karate di Bumi Sa-Ijaan.
“Kami tidak mengejar kuantitas. Banyak atlet tanpa kualitas itu percuma, tidak akan menghasilkan prestasi. Lewat ujian ini, kita tentukan arah pembinaan selanjutnya,” tegas Pawahisa.
Pria yang juga menjabat sebagai praktisi hukum ini menekankan bahwa mencetak juara memerlukan nafas panjang. Menurutnya, prestasi tidak lahir secara instan, melainkan hasil dari proses berjenjang yang disiplin.
“Ini kerja kolektif. Dukungan sarana, disiplin latihan, dan mentalitas atlet harus sejalan agar kita bisa bersaing di level nasional,” tambahnya.
Gayung bersambut, komitmen pembinaan ini mendapat dukungan penuh dari Kodim 1004/Kotabaru dan Polres Kotabaru.
Pihak keamanan mengapresiasi langkah INKAI dalam membentuk karakter generasi muda yang disiplin dan menjauhi perilaku negatif.
Sementara itu, Ketua Forki Kotabaru, Asikin Ngile, menitipkan pesan mendalam kepada para peserta. Ia mengingatkan bahwa tingkatan sabuk harus dibarengi dengan perilaku yang luhur.
“Sabuk itu bukan ukuran utama. Yang paling penting adalah bagaimana karateka mengamalkan sumpah karate dalam kehidupan sehari-hari,” tutupnya.
Editor : Sutrisno