Abizar, siswa kelas VI SD di Banjarbaru belakangan ini ramai jadi pembicaraan. Kisah anak 12 tahun itu viral karena baju sekolahnya dicoret oleh temannya.
*****
Coretan tinta di seragam sekolahnya bukan sekadar noda. Bagi anak bungsu dari lima bersaudara ini, baju itu adalah modal masa depan.
Abizar merupakan anak yatim piatu. Ia tinggal bersama kakak-kakaknya yang bekerja serabutan. Ada yang menjadi petugas kebersihan, ada pula yang hanya seorang penjaga stand kebab.
Penghasilan pas-pasan membuat mengganti seragam terasa sulit. Bantuan dari Dinas Pendidikan sempat datang, tetapi cepatnya pertumbuhan Abizar membuat seragam lama kembali tak muat.
Karena viral, kisah Abizar sampai ke akun Instagram Wali Kota Banjarbaru, Hj Erna Lisa Halaby. Tak menunggu lama, respons pun mengalir.
Bertepatan dengan peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW di Rumah Dinas Wali Kota beberapa waktu lalu, Abizar dan keluarganya diundang.
Di sana santunan diberikan kepada anak-anak yatim piatu yang hadir. Khusus untuk Abizar, bantuan dana diserahkan cukup untuk seragam baru dan perlengkapan sekolah.
“Anak-anak kita harus mendapatkan perlindungan dan rasa aman di sekolah. Tidak boleh ada perundungan, apalagi terhadap anak yatim piatu yang seharusnya kita rangkul,” tegas Lisa Halaby.
Ia menyayangkan insiden pencoretan seragam itu. Lebih dari sekadar kejadian, peristiwa tersebut menjadi pengingat. Guru, sekolah, dan orang tua diminta memperketat pengawasan serta menanamkan nilai empati sejak dini. Agar tawa anak-anak tak lagi dibayangi rasa takut.
Di sudut ruangan, Risma, kakaknya Abizar menyeka air mata. “Terima kasih banyak, Ibu Wali Kota. Ini jadi penyemangat besar bagi adik saya untuk kembali bersekolah dan mengejar cita-citanya,” ucapnya.
Editor: Sutrisno
Editor : Arief