Berdasarkan pantauan di lapangan, para peminta-minta ini secara masif menyasar titik-titik keramaian, mulai dari area pasar dan kawasan pertokoan, hingga melakukan aksinya di persimpangan lampu merah serta bahu jalan protokol.
Pihak Satpol PP dan Damkar HSS mengklaim telah berulang kali melakukan penertiban untuk menjaga ketertiban umum.
Kepala Satpol PP dan Damkar HSS, Iwan Friady, melalui Kepala Bidang Ketentraman dan Ketertiban Umum, Indera Darmawan, mengungkapkan bahwa para pengemis yang terjaring mayoritas merupakan "wajah lama" yang sudah berulang kali diamankan.
"Warga mengeluhkan pengemisnya itu-itu saja, terutama yang disabilitas. Padahal sudah pernah diamankan dan ditegur, bahkan sebenarnya sudah mendapatkan bantuan dari Dinas Sosial. Namun, mereka tetap saja kembali menjadi pengemis," ujar Indera.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kabupaten HSS, Sri Wiyono, menjelaskan bahwa penanganan masalah ini memerlukan pendekatan yang berkesinambungan melalui kerja kolaboratif.
"Satpol PP melakukan penjaringan untuk memastikan ketertiban, sementara Dinas Sosial menindaklanjutinya dengan melakukan assessment di Rumah Singgah. Langkah ini penting untuk menentukan apakah klien perlu dikembalikan ke pihak keluarga (reunifikasi) atau dirujuk ke panti rehabilitasi milik provinsi," jelas Wiyono.
Ia tidak menampik bahwa faktor ekonomi dan keterbatasan anggaran menjadi salah satu pemicu mengapa para pengemis ini sulit lepas dari aktivitasnya di jalanan.
"Pemerintah daerah terus berupaya melalui bantuan sosial, namun kami akui kemampuan anggaran saat ini belum bisa menanggung beban hidup secara penuh. Inilah yang sering kali membuat warga tetap memilih turun ke jalan meski sudah terdata sebagai penerima bantuan," tambahnya.
Sebagai langkah preventif untuk memutus rantai fenomena ini, Wiyono juga memberikan imbauan tegas kepada masyarakat agar lebih bijak dalam memberikan bantuan.
Menurutnya, kedermawanan masyarakat yang disalurkan secara langsung di jalanan justru menjadi daya tarik bagi pengemis untuk terus bertahan.
"Kami sangat menghargai niat baik masyarakat, namun memberi uang secara langsung di jalanan justru 'menyuburkan' mentalitas ketergantungan. Selama masyarakat masih memberi, para pengemis akan sulit untuk berhenti," tegasnya.
Ia menyarankan agar masyarakat mengalihkan sedekahnya ke lembaga resmi.
"Kami mengimbau masyarakat untuk mengurangi pemberian langsung di jalan agar para pengemis ini jera. Salurkanlah bantuan melalui lembaga resmi seperti BAZNAS atau rumah ibadah. Dengan begitu, kita secara tidak langsung mendorong mereka untuk mau mengikuti program rehabilitasi dan pembinaan yang telah disiapkan pemerintah," pungkas Wiyono.
Editor : Sutrisno