Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sehari Lima Laporan Ular Masuk Rumah Warga di Kabupaten Banjar

M Fadlan Zakiri • Selasa, 27 Januari 2026 | 19:37 WIB

TANGKAP ULAR: Petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Banjar mengamankan ular python yang tersangkut di kolong rumah warga, Minggu (25/1/2026).
TANGKAP ULAR: Petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Banjar mengamankan ular python yang tersangkut di kolong rumah warga, Minggu (25/1/2026).
MARTAPURA – Laporan gangguan ular yang masuk ke rumah warga di Kabupaten Banjar terus meningkat.

Dalam satu hari, petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Banjar bahkan menangani hingga lima laporan di lokasi berbeda.

Kepala Bidang Pemadaman, Penyelamatan, dan Sarana Prasarana DPKP Kabupaten Banjar, M Kasyaf R, mengatakan, ular yang dievakuasi umumnya berjenis python atau ular sawah, serta ular cobra.

“Ukuran ular bervariasi, yang terbesar mencapai sekitar tiga meter,” ujarnya, Selasa (27/1/2026).

Seluruh temuan, kata Kasyaf, berada di lingkungan permukiman warga, baik di desa maupun kawasan perumahan.

Laporan pertama diterima petugas pada pukul 08.16 Wita dari Jalan Manarap Baru Handil Bakumpai, Komplek Griya Surya Jaya 2, Desa Manarap Baru.

Seekor ular python berukuran sekitar satu meter ditemukan di samping rumah warga setelah terjerat jaring pengaman ternak.

Laporan kedua masuk pada pukul 11.07 Wita dari Jalan Ahmad Yani KCG, Cluster Alamanda, Kelurahan Gambut.

Seekor ular python berukuran sekitar tiga meter ditemukan di kandang ternak warga setelah terdengar suara gaduh dari arah belakang rumah.

Pada siang hingga malam hari, petugas kembali mengevakuasi tiga ekor ular cobra dari Jalan Belahan Kelurahan Pesayangan, Jalan Keramat Desa Tungkaran, serta kawasan permukiman Desa Indrasari, Kecamatan Martapura.

“Alhamdulillah, seluruh ular berhasil diamankan tanpa menimbulkan korban,” ungkap Kasyaf.

Menurutnya, meningkatnya gangguan ular tidak terlepas dari menyusutnya habitat alami akibat alih fungsi lahan.

Pembukaan lahan untuk permukiman, perkebunan, dan aktivitas lainnya telah mengurangi kawasan rawa dan semak yang sebelumnya menjadi habitat alami ular.

“Kondisi ini diperparah oleh perubahan musim dan cuaca. Saat hujan, sarang ular tergenang sehingga ular keluar mencari tempat kering.

Sebaliknya, saat kemarau, ular mendekati permukiman untuk mencari air dan mangsa,” jelasnya.

Selain itu, ketersediaan mangsa seperti tikus dan ternak kecil di sekitar rumah warga juga menjadi daya tarik tersendiri.

Lingkungan yang kurang bersih berpotensi meningkatkan populasi tikus, yang kemudian mengundang ular masuk ke kawasan permukiman. 

DPKP juga mencatat meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap layanan Damkar sebagai layanan penyelamatan turut memengaruhi jumlah laporan.

Namun, Kasyaf menegaskan lonjakan kasus tetap berkaitan erat dengan perubahan ekosistem akibat alih fungsi lahan.

Setelah diamankan, ular-ular tersebut dikarantina terlebih dahulu sebelum dilepasliarkan kembali ke lokasi yang jauh dari permukiman.

Petugas juga memberikan edukasi kepada warga agar tetap waspada, menjaga kebersihan lingkungan, dan tidak menangani ular secara mandiri demi menghindari risiko berbahaya. (*) 

 

Editor : M. Ramli Arisno
#gangguan ular permukiman #kabupaten banjar #habitat ular menyusut #evakuasi ular Damkar #ular masuk rumah