RANTAU – Kondisi Bendungan Tapin di Kecamatan Piani kian memprihatinkan.
Permukaan waduk kini hampir sepenuhnya tertutup gulma air jenis kayapu, memicu kekhawatiran masyarakat akan keselamatan Bendungan Tapin.
Tokoh adat Dayak Kabupaten Tapin, Karliansyah menilai perubahan kondisi waduk terjadi sangat drastis.
Waduk yang dulu bersih dengan air berwarna kebiruan, kini berubah menjadi hamparan gulma yang menutupi hampir seluruh area.
“Dulu waduk ini bersih, airnya biru. Sekarang sudah penuh ditutupi gulma kayapu,” ujarnya, Senin (26/1/2026).
Menurut Karliansyah, keberadaan gulma dalam jumlah besar bukan hanya merusak pemandangan.
Namun berpotensi menimbulkan ancaman serius terhadap struktur bendungan.
Tumpukan kayapu yang semakin menebal dikhawatirkan menambah beban dan tekanan air.
“Gulma ini sangat berat. Ini sudah tahun kedua waduk penuh seperti ini, dan tekanannya sudah sampai ke check dam Bendungan Tapin,” ungkapnya.
Upaya pembersihan yang pernah dilakukan secara gotong royong antara masyarakat dan tim bendungan dinilai belum efektif.
Gulma kembali tumbuh dengan cepat dan jumlahnya justru semakin banyak.
“Kami pernah membersihkan bersama-sama, tapi tidak bertahan lama. Kayapu tumbuh lagi dan makin banyak,” katanya.
Karliansyah pun mendesak pihak berwenang, terutama balai yang memiliki kewenangan pengelolaan waduk, agar segera mengambil langkah konkret dan berkelanjutan.
“Jangan sampai beban gulma ini terus bertambah dan menimbulkan dampak yang tidak kita inginkan. Ini harus ditangani secara serius,” tegasnya.
Masyarakat sekitar waduk berharap ada solusi teknis jangka panjang, baik melalui pembersihan rutin, pengendalian gulma, maupun penanganan khusus lainnya, demi menjaga fungsi Waduk Tapin dan keselamatan Bendungan Tapin.
Editor : Eddy Hardiyanto