Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Banjir Rusak Lahan Pertanian di Padang Batung HSS, Dinas Terkait Siapkan Solusi

M Padil Ihsan • Jumat, 16 Januari 2026 | 14:19 WIB

LUMPUR: Lahan Perkebunan di Padang Batung dipenuhi lumpur. (M. Padil Ihsan/Radar Banjarmasin)
LUMPUR: Lahan Perkebunan di Padang Batung dipenuhi lumpur. (M. Padil Ihsan/Radar Banjarmasin)
KANDANGAN - Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) mulai menyiapkan langkah pemulihan lahan pertanian menyusul kerusakan akibat banjir lumpur material tambang yang melanda Kecamatan Padang Batung. 

Banjir tersebut berdampak langsung pada lahan sawah dan hortikultura milik petani, dengan kerugian yang dinilai cukup besar.

Sebagai tindak lanjut, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Padang Batung melakukan pengukuran dan kajian teknis terhadap kondisi tanah di wilayah terdampak.

Hasil pengukuran pH tanah menunjukkan pH berada pada kisaran 3 hingga 4 atau tergolong masam, sehingga belum ideal bagi pertumbuhan tanaman padi yang membutuhkan pH minimal 5.

Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian Padang Batung, Ida Wahyuni, mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu faktor utama menurunnya produktivitas lahan pascabanjir lumpur.

“Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan Tim Balai Penyuluhan Pertanian Padang Batung, pH tanah di lahan pertanian masih berada pada kisaran 3 hingga 4 atau tergolong masam,” ujar Ida Wahyuni. 

Ia menjelaskan, untuk memperbaiki kondisi tanah tersebut diperlukan pengapuran lahan. Secara teknis, untuk menaikkan pH tanah satu poin dibutuhkan rata-rata satu ton kapur per hektare, sehingga diperlukan sekitar dua ton kapur per hektare agar pH tanah mendekati kondisi netral.

“Untuk menaikkan pH tanah satu poin dibutuhkan rata-rata satu ton kapur per hektare, sehingga diperlukan sekitar dua ton per hektare agar pH tanah mendekati kondisi netral,” jelas Ida Wahyuni. 

Selain pengapuran, BPP Padang Batung juga merekomendasikan penggunaan pembenah tanah berupa asam humat sebanyak tiga kilogram per hektare, khususnya pada lahan yang tergolong kritis.

“Selain pengapuran, pada lahan yang tergolong kritis juga direkomendasikan pemberian asam humat sebagai pembenah tanah agar lahan kembali produktif,” tambahnya.

Rekomendasi teknis tersebut diperkuat dengan surat resmi Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang menyampaikan data luas lahan sawah dan hortikultura terdampak aktivitas tambang di Kecamatan Padang Batung. 

Lahan terdampak tersebar di tiga desa, yakni Desa Padang Batung seluas 40 hektare, Desa Kaliring seluas 36 hektare, dan Desa Jembatan Merah seluas 25 hektare.

Seluruh lahan tersebut telah dilakukan pemeriksaan oleh tim terkait dan diusulkan untuk mendapatkan bantuan perbaikan lahan.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Lutfiana, menyatakan bahwa usulan bantuan mencakup kapur pertanian (dolomit), pembenah tanah (asam humat), serta sarana produksi pertanian lainnya bagi kelompok tani terdampak.

“Rekomendasi dan usulan bantuan ini disusun berdasarkan hasil pemeriksaan dan kajian teknis di lapangan, sehingga dapat menjadi dasar perencanaan pemulihan lahan pertanian terdampak,” ujar Lutfiana. 

Langkah ini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya pemulihan lahan pertanian pascabanjir lumpur material tambang, sekaligus membantu petani di Kecamatan Padang Batung agar dapat kembali berproduksi pada musim tanam berikutnya.

Editor : Sutrisno
#Banjir #HSS #lahan pertanian