BANJARBARU - Banjir yang terjadi sejak pertengahan Desember 2025 hingga awal Januari 2026 tak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga berdampak serius pada fasilitas umum dan infrastruktur jalan di Kalimantan Selatan.
Salah satu ruas jalan yang menjadi sorotan publik adalah Jalan Bypass Fakhruddin di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).
Jalan yang kerap disebut warga sebagai ‘Jalan Tol Amuntai’ itu ramai dikeluhkan masyarakat karena mengalami kerusakan parah.
Salah satu yang mencuat adalah unggahan video di akun media Instagram @mantri_penerangan pada 11 Januari 2026.
Dalam video berdurasi satu menit itu, pemilik akun memperlihatkan salah satu titik lubang besar yang melintang di badan jalan.
“Hati-hati lewat jalan tol-tolan bypass, ada banyak lubakan (lubang) dalam,” ucapnya dalam video tersebut.
Ia juga menyebutkan kondisi jalan yang tergenang air membuat pengendara sepeda motor harus ekstra waspada. Bahkan, beberapa titik disebut sudah tak bisa dilewati kendaraan.
“Kalau mau lewat kendaraan (motor) harus lewat pinggir (sisi) jalan,” ujarnya.
Meski rusak dan masih tergenang banjir, jalan yang menghubungkan Desa Panangkalaan, Kecamatan Amuntai Utara, dengan Desa Bayur, Kecamatan Haur Gading, itu tetap dilalui warga.
“Jalan (kewenangan) provinsi ini, kaya apa nih ini, kada bisa dilalui lagi, dalam banar ini kaya bubur dasar lubangnya,” sindirnya.
Untuk menghindari kecelakaan, warga menandai sejumlah titik berlubang dengan spanduk peringatan dan benda-benda mencolok seperti peti styrofoam bekas hingga dahan pohon.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Kalimantan Selatan, Robby Cahyadi, mengaku sudah mengetahui kerusakan di ruas Jalan Tol Amuntai tersebut.
“Kerusakan aspal di ruas Jalur Bypass Amuntai ini memang dikarenakan akibat tergenang banjir,” ungkap Robby saat dikonfirmasi, Rabu (14/1/2026) siang.
Namun, ia menegaskan perbaikan belum bisa dilakukan karena kondisi lokasi masih tergenang air.
“Kami harus menunggu kondisi stabil, muka air surut dan tidak lagi menggenangi badan jalan. Kalau dirasa sudah aman dari banjir, baru bisa mulai perbaikan,” jelasnya.
Robby menyebut, perlakuan yang sama juga diterapkan pada kerusakan aspal di sejumlah ruas jalan provinsi lainnya yang terdampak banjir dan cuaca ekstrem.
Beberapa ruas yang mengalami kerusakan antara lain Jalan Banjarbaru-Batulicin, Jalan Mataraman-Sungai Ulin, Jalan Banjarbaru-Aranio, Jalan menuju Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari di Kabupaten Banjar, Jalan Tanjung–Muara Uya, serta ruas Jalan Jejangkit di Kabupaten Barito Kuala.
Menurut Robby, genangan air dalam waktu lama berpotensi merusak badan jalan dan sistem drainase akibat tergerus arus serta melemahnya struktur perkerasan aspal.
Pihaknya akan terlebih dahulu melakukan verifikasi lapangan terhadap seluruh ruas jalan provinsi yang terdampak sebelum menentukan langkah perbaikan.
“Jika hasil verifikasi menunjukkan adanya kerusakan atau aspal tergerus, kami akan segera melakukan penanganan, baik melalui pengaspalan ulang maupun tambal sulam,” ujarnya.
Hingga kini, Dinas PUPR Kalsel belum dapat memastikan jumlah pasti ruas jalan dan jembatan yang mengalami kerusakan.
Pasalnya, masih terdapat beberapa titik yang tergenang air sehingga menyulitkan pemeriksaan secara menyeluruh.
“Masih ada beberapa lokasi yang tergenang, sehingga kami belum bisa memastikan tingkat kerusakannya. Pemeriksaan menyeluruh akan kami lakukan setelah air benar-benar surut,” katanya.
Meski demikian, Robby memastikan pihaknya akan melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi pada seluruh ruas jalan provinsi yang terdampak banjir.
“Kami pastikan seluruh ruas jalan provinsi yang terdampak akan kami cek dan verifikasi agar penanganannya tepat sasaran,” tegasnya.
Editor : Arif Subekti