Curah hujan tinggi yang memicu banjir membuat para petani belum bisa mulai menanam, meski seharusnya sudah masuk jadwal tanam.
Salah seorang petani cabai Hiyung, Junaidi mengungkapkan hingga awal Desember ini lahan masih belum memungkinkan untuk ditanami.
“Belum bisa tanam. Banjir masih ada. Paling cepat bulan empat,” ujarnya, Rabu (14/1/2026).
Meski belum bisa turun ke sawah, para petani tidak tinggal diam. Mereka memilih memanfaatkan bibit cabai Hiyung yang sudah siap tanam untuk dijual.
“Bibitnya banyak yang sudah siap, jadi dijual dulu. Banyak pembeli dari luar,” katanya.
Saat ini, Junaidi menyediakan sekitar 15 ribu bibit cabai Hiyung siap tanam. Bibit tersebut dijual dengan harga Rp500 per tanaman.
Menurutnya, penjualan bibit ini menjadi sumber penghasilan sementara bagi petani, sembari menunggu musim tanam yang lebih aman.
“Daripada belum ada kerjaan, jual bibit ini sangat menguntungkan. Bisa membantu biaya keluarga,” jelasnya.
Bahkan, ia mengaku ada petani yang mampu membiayai sekolah anak dari hasil penjualan bibit cabai Hiyung.
“Memang sudah kebiasaan, sebelum bisa tanam terlebih dahulu jual bibit. Biasanya ada saja yang membeli,” tambahnya.
Cabai Hiyung sendiri dikenal sebagai salah satu komoditas unggulan Tapin dengan tingkat kepedasan tinggi dan permintaan pasar yang stabil. Kondisi ini membuat bibit cabai Hiyung tetap diminati meski musim tanam tertunda.
Petani berharap cuaca segera membaik agar musim tanam bisa kembali normal dan produksi cabai Hiyung tetap terjaga.
Editor : Sutrisno