BATI-BATI – Banjir yang melanda Kecamatan Bati-Bati memasuki hari ke-12, Senin (12/1/2026).
Meski genangan air mulai menunjukkan tanda-tanda surut, dampaknya masih dirasakan warga di enam desa terdampak.
Enam desa tersebut yakni Desa Benua Raya, Bati-Bati, Pandahan, Padang, Ujung, dan Nusa Indah.
Dari seluruh wilayah terdampak, Desa Benua Raya tercatat sebagai daerah dengan kondisi paling parah.
Camat Bati-Bati, Noor Hilmi mengatakan berdasarkan pemantauan di lapangan, ketinggian air telah berkurang sekitar 20 sentimeter.
Namun penurunan itu belum cukup signifikan untuk mengembalikan kondisi normal.
“Ketinggian air memang sudah berkurang, tetapi kondisinya belum sepenuhnya normal dan masih menjadi perhatian kami,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebagian warga memilih bertahan di rumah.
Sementara lainnya ke posko pengungsian maupun ke rumah kerabat.
Hingga kini, posko pengungsian terpusat di Posko Ubudiyah Peduli.
Dalam penanganan banjir, pihak kecamatan membuka posko bantuan sebagai pusat penerimaan dan pendistribusian logistik.
Bantuan datang dari berbagai pihak, terutama perusahaan yang berada di wilayah Kecamatan Bati-Bati.
Kemudian disalurkan ke desa-desa terdampak.
Noor Hilmi menegaskan, seluruh bantuan yang masuk dan keluar dari posko kecamatan dicatat secara tertib sebagai bentuk transparansi.
“Setiap bantuan yang diterima dan disalurkan kami catat agar dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Ia menambahkan, koordinasi lintas sektor bersama Forkopimcam terus dilakukan agar penanganan banjir berjalan optimal.
Pihaknya berharap curah hujan segera menurun, sehingga warga dapat kembali ke rumah masing-masing.
Sementara itu, sebagian warga Desa Benua Raya memilih mengungsi secara mandiri ke rumah keluarga di desa lain. Salah satunya di Desa Padang.
Editor : Eddy Hardiyanto