Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sebulan Mengabdi di Aceh, Relawan KUN Tapin Pulang dengan Berat Hati

Rasidi Fadli • Senin, 12 Januari 2026 | 10:59 WIB

PENGALAMAN: Ubad M Badridin menceritakan pengalamannya hampir sebulan jadi relawan membantu bidang kesehatan di Aceh yang terkena banjir.
PENGALAMAN: Ubad M Badridin menceritakan pengalamannya hampir sebulan jadi relawan membantu bidang kesehatan di Aceh yang terkena banjir.
RANTAU – Setelah hampir satu bulan penuh mengabdikan diri membantu korban banjir di Aceh, Relawan Volunteer KUN Tapin, Ubad M Badridin dan dr Rika Amelia akhirnya kembali ke Kabupaten Tapin. 

Meski pulang dalam keadaan sehat dan selamat, Ubad mengaku masih menyimpan rasa berat hati meninggalkan masyarakat Aceh yang hingga kini belum sepenuhnya pulih dari dampak bencana.

“Alhamdulillah bisa kembali pulang dengan sehat dan selamat. Tapi jujur, masih berat meninggalkan Aceh karena kondisi di sana belum sepenuhnya membaik,” ungkapnya, Senin (12/1/2026).

Ubad menuturkan, kesan pertama yang paling membekas saat tiba di lokasi bencana adalah keteguhan dan ketabahan masyarakat Aceh dalam menghadapi musibah. Meski kondisi lingkungan dan kehidupan sehari-hari masih jauh dari normal, warga tetap berupaya bangkit dan saling menguatkan.

Selama menjalankan misi kemanusiaan, tantangan terberat yang dihadapi para relawan adalah kondisi medan yang rusak parah. Jalanan berlumpur kering, akses yang terbatas, serta minimnya pasokan listrik dan jaringan internet di sejumlah wilayah menjadi kendala tersendiri dalam menjalankan tugas.

“Kondisi jalan dan medan sangat berat, ditambah keterbatasan listrik dan jaringan di beberapa wilayah,” jelasnya.

Berangkat atas nama kesehatan, kegiatan yang paling sering dilakukan relawan KUN Humanity Sistem di Aceh adalah pelayanan mobile klinik serta asesmen kesehatan bagi masyarakat terdampak. Layanan ini dinilai sangat penting mengingat fasilitas kesehatan setempat belum sepenuhnya pulih pascabanjir.

Kondisi paling memprihatinkan yang ditemui di lapangan, lanjut Ubad, adalah banyaknya rumah warga yang rusak berat bahkan hilang, sehingga penyintas masih harus bertahan di hunian sementara.

Selain itu, tumpukan sampah dan fasilitas kesehatan yang belum optimal berpotensi meningkatkan angka kesakitan di kalangan korban banjir.

Dalam menjalankan tugas, kerja sama antara relawan dan masyarakat setempat terjalin dengan sangat baik. Relawan dari berbagai daerah saling bahu membahu bersama warga Aceh untuk memperbaiki kondisi pascabencana.

Pengalaman kemanusiaan ini memberikan pelajaran berharga bagi Ubad. Ia mengaku semakin menyadari pentingnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap bencana, sekecil apa pun potensi yang ada.

“Pengalaman ini mengingatkan kita semua agar selalu waspada dan siap menghadapi bencana,” katanya.

Menurutnya, kebutuhan mendesak masyarakat Aceh pascabanjir saat ini antara lain hunian sementara yang lebih layak, peralatan memasak, MCK umum, sumber dan tampungan air bersih, pengelolaan sampah, serta perbaikan sarana pendidikan dan kesehatan.

Ubad juga mengaku sangat tersentuh dengan semangat dan ketangguhan masyarakat Aceh dalam menghadapi musibah.

Bagi dirinya, pengabdian dan solidaritas sebagai relawan berarti memberikan apa yang dimiliki dan mampu dilakukan dengan tulus, tanpa pamrih, serta tanpa memandang suku, budaya, dan agama.

Kepada masyarakat Tapin, Ubad menyampaikan terima kasih atas dukungan doa dan donasi yang telah diberikan. Ia juga mengingatkan agar kepedulian terhadap sesama dilakukan dengan bijak, mempertimbangkan kebutuhan penyintas agar tidak menimbulkan persoalan baru, seperti tumpukan pakaian bekas atau potensi masalah sosial lainnya.

Dukungan moril dari keluarga dan pemerintah daerah menjadi penyemangat tersendiri selama bertugas di Aceh. Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Bupati Tapin dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tapin yang telah memberikan restu dan dukungan penuh.

Ke depan, Ubad berharap pemulihan Aceh dapat terus berlanjut. Ia menyebutkan, tim KUN Humanity Sistem+ hingga kini masih melaksanakan misi kemanusiaan, di antaranya pelayanan mobile klinik, perbaikan MCK, serta penyediaan air bersih.

Jika diberi kesempatan kembali, Ubad berharap dapat meningkatkan pelayanan kesehatan, terutama di wilayah yang fasilitas kesehatannya belum kembali berfungsi, sekaligus mengkaji lebih jauh dampak kesehatan jangka panjang pascabanjir.

Ia pun mengajak generasi muda Tapin untuk tidak ragu terlibat dalam kegiatan kerelawanan. Menurutnya, pengalaman di lapangan bukan hanya tentang membantu sesama, tetapi juga membentuk kepedulian, empati, dan kesiapsiagaan menghadapi bencana di masa depan.

Editor : Sutrisno
#Tapin #aceh #Rantau