Wilayah terdampak meliputi Desa Semangat Dalam, Semangat Bakti, Semangat Karya, dan Kelurahan Handil Bakti.
Ketinggian air mencapai selutut orang dewasa di hampir seluruh permukiman. Pantauan Radar Banjarmasin, hampir semua kawasan perumahan dan kompleks warga terendam.
Risna (43), warga Komplek Griya Antasari, Desa Semangat Karya, mengaku belum ada perhatian dari pemerintah. Hingga kini, tidak ada bantuan yang diterima warga.
"Ini sudah berhari-hari kami seperti ini. Kalau mau keluar rumah harus menerobos banjir untuk menuju tempat parkir kendaraan. Motor tidak bisa dibawa masuk karena airnya tinggi," ujar Risna.
Ia berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan, terutama sembako dan obat-obatan. Pasalnya, dampak banjir mulai dirasakan pada kesehatan warga.
"Anak saya sudah mulai gatal-gatal. Kami tiap hari lewat air banjir, apalagi airnya bau dan kotor," keluhnya.
Risna menilai pemerintah daerah seharusnya belajar dari musibah banjir besar 2021. Menurutnya, pascabanjir tersebut, normalisasi sungai semestinya menjadi prioritas agar kejadian serupa tidak terulang.
"Harapan saya sama dengan warga lainnya, selain bantuan juga pengerukan sungai di sekitar Semangat Dalam," pintanya.
Kondisi serupa terjadi di wilayah Keruwing. Amat (38), warga setempat, meminta pemerintah segera mengeruk Sungai Semangat yang bermuara ke Sungai Alalak.
"Sungai ini sudah tidak berfungsi, tertutup rumput liar. Akibatnya air menggenang berhari-hari, debitnya terus naik dan mulai mengeluarkan bau tidak sedap," ungkapnya.
Ia meyakini normalisasi sungai menjadi kunci utama agar air cepat surut dan aktivitas warga kembali normal.
"Sudah berhari-hari kami harus berdamai dengan air yang tak kunjung surut. Bukan hanya basah, tapi sekarang airnya mulai berbau dan semakin tinggi," terangnya.
Hal senada disampaikan Syahrial, warga Keruwing lainnya. Ia berharap pemerintah segera bertindak dengan menormalisasi Sungai Semangat.
"Tanpa pengerukan, sungai yang sekarang mati karena tertutup rumput liar ini hanya akan terus memerangkap air di rumah-rumah warga," katanya.
Kepala Desa Semangat Dalam Norman bersama rombongan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Semangat Dalam meninjau sejumlah sungai yang kondisinya tak lagi berfungsi optimal, Sabtu (10/1/2026).
Dalam peninjauan tersebut, ditemukan beberapa sungai yang dangkal dan dipenuhi rerumputan. Kondisi itu dinilai menjadi salah satu penyebab air sulit surut saat banjir melanda wilayah tersebut.
Hasil peninjauan rencananya akan dilaporkan ke pihak terkait. Sungai-sungai tersebut dianggap berpotensi menjadi solusi untuk menurunkan genangan air.
Norman mengaku, sejak banjir melanda, hampir setiap hari dirinya menerima keluhan dari warga. Keluhan itu mulai dari keresahan akibat rumah terendam, bantuan yang belum diterima, hingga tuntutan solusi konkret penanganan banjir.
"Hampir setiap malam, bahkan sampai dini hari, saya berkeliling meninjau permukiman warga. Padahal rumah saya sendiri juga terendam, tapi saya ingin memastikan kondisi warga," ujarnya.
Ia menyayangkan belum adanya peninjauan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), baik untuk pemantauan maupun penanganan banjir di wilayahnya.
"Padahal data sudah kami sampaikan, mulai dari jumlah rumah terendam hingga warga terdampak," katanya.
Menurut Norman, wilayah terparah berada di kawasan perkampungan Semangat Dalam, khususnya di daerah Sungai Dua. Di lokasi tersebut, air tidak hanya merendam jalan, tetapi juga masuk ke rumah-rumah warga.
Ia menegaskan, mayoritas warga menginginkan solusi nyata berupa pengerukan sungai dan anak sungai di sekitar wilayah tersebut. Setidaknya ada tiga sungai utama yang perlu dinormalisasi, ditambah gorong-gorong di Jalan Trans Kalimantan.
"Sungai Semangat, Sungai Bagiwas, Sungai Bagiwas Kecil, Sungai Gatah, serta anak sungai di kawasan Handil Bakti. Panjangnya sekitar 1,2 kilometer. Muara sungai sudah dangkal, air bisa masuk tapi tidak bisa keluar," jelasnya.
Norman berharap pemerintah daerah bersama wakil rakyat dapat mendengar keluhan warga dan segera mengambil langkah konkret untuk penanganan banjir.
"Setelah ini saya akan sampaikan ke Kepala Dinas PMD dan Pak Bupati, semoga pemerintah dan anggota dewan juga bisa memperhatikan ini," harapnya.
Kepala BPD Semangat Dalam Agus Suwarni Isyra menambahkan, kondisi tersebut harus segera mendapat respons cepat dari pemerintah. Pasalnya, banjir sudah berlangsung berhari-hari tanpa adanya solusi maupun tindakan nyata di lapangan.
"Ini sudah berhari-hari, tapi belum ada solusi maupun penanganan. Banyak masyarakat terdampak dan aktivitas warga menjadi terhambat," ujarnya.
Agus menyebut, genangan air bahkan sudah masuk ke rumah-rumah warga. Selain itu, hampir seluruh akses jalan tidak bisa dilewati karena terendam banjir.
"Air sudah masuk ke rumah. Jalan pun hampir semuanya tidak bisa dilalui akibat genangan," katanya.
Ia menegaskan, berdasarkan hasil peninjauan langsung bersama kepala desa dan anggota BPD, seluruh sungai yang didatangi kondisinya tidak lagi berfungsi optimal.
"Kami melihat dan meninjau langsung. Sungai-sungai itu sudah tidak berbentuk sungai lagi, malah seperti hutan. Banyak tumbuhan liar yang tumbuh dan menutup aliran air," tambah Agus.
Kepala BPBD Barito Kuala Mirwan Siregar menjelaskan, pihaknya kini lebih berhati-hati dalam merilis data dampak banjir. Hal tersebut dilakukan sebagai pembelajaran dari tahun sebelumnya, di mana BPBD sempat dinilai tidak cermat dalam penghimpunan data.
"Kami sekarang berpegang pada satu data akhir saja. Tidak seperti tahun lalu yang setiap hari kejar-kejaran mengeluarkan data. Data harus kami klopkan dulu supaya pimpinan, khususnya bupati, tidak memegang data yang belum terbarui. Kami tidak ingin disalahkan lagi seperti tahun lalu," ujarnya.
Mirwan menyebutkan, BPBD memberikan batas waktu sembilan hari kepada seluruh kecamatan terdampak untuk menyampaikan laporan pendataan. Setelah batas waktu tersebut, data tambahan tidak lagi diterima.
"Selama ini kami membuat data pertengahan, tapi dinilai tidak efektif. Maka sekarang kami tetapkan satu data final. Kecamatan yang terdampak sementara ini yakni Jejangkit, Mandastana, Alalak, dan Belawang. Sementara di Marabahan terdampak air pasang karena berada di bantaran sungai," jelasnya.
Adapun ketinggian air di wilayah terdampak berkisar antara 20 hingga 40 sentimeter. Kondisi terparah berada di Desa Bahandang, Kecamatan Jejangkit, yang memang menjadi wilayah langganan banjir.
Mirwan mengakui, penanganan banjir di awal tahun masih terkendala anggaran. Pasalnya, hingga kini anggaran belum diketuk DPRD.
"Ini masih awal tahun, anggaran belum disahkan, jadi kami belum bisa menganggarkan apa-apa. Untuk sementara kami menunggu arahan pimpinan," katanya.
Terkait penetapan status tanggap darurat, Mirwan menegaskan hal tersebut belum bisa dilakukan karena masih harus memenuhi sejumlah persyaratan.
"Kriteria peningkatan status itu banyak, seperti adanya korban jiwa dan indikator lainnya. Saat ini belum terpenuhi, sehingga status belum bisa dinaikkan," pungkasnya.
Editor : M. Ramli Arisno