Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

1,28 Hektare Lahan Pertanian di HSU Terendam Banjir

M Akbar Radar Banjarmasin • Jumat, 9 Januari 2026 | 13:59 WIB

PERTANIAN: Lahan persawahan rawa di Kabupaten Hulu Sungai Utara sangat tergantung pada musim. (Foto: M.Akbar/Radar Banjarmasin)
PERTANIAN: Lahan persawahan rawa di Kabupaten Hulu Sungai Utara sangat tergantung pada musim. (Foto: M.Akbar/Radar Banjarmasin)
AMUNTAI - Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) HM Haridi mengungkapkan bahwa realisasi luas tanam padi di wilayahnya sejak Oktober 2025 hingga Januari 2026 mencapai 288 Hektare (Ha). 

Data tersebut disampaikannya pada Jumat (9/1/2026), sebagai gambaran kondisi sektor pertanian di tengah dinamika cuaca dan musim yang terjadi saat ini.

Dari total luas tanam tersebut, Haridi menjelaskan sebagian lahan terdampak bencana banjir. Tercatat sekitar 1,28 hektare lahan pertanian terendam banjir, sementara lahan yang mengalami puso atau gagal panen mencapai kurang lebih 0,5 Ha. 

Meski demikian, secara umum kondisi pertanian di Kabupaten HSU masih dapat dikendalikan dengan berbagai upaya adaptasi yang dilakukan petani dan pemerintah daerah.

Menurut Haridi, tantangan utama sektor pertanian di Kabupaten HSU sangat dipengaruhi oleh faktor musim. Karakteristik lahan pertanian di wilayah ini didominasi oleh lahan rawa, sehingga pola tanam dan hasil produksi sangat bergantung pada kondisi curah hujan dan kemarau.

“Konsep pertanian di wilayah kami ini memang cukup unik. Ketika terjadi kemarau panjang, justru banyak lahan rawa yang bisa dimanfaatkan secara optimal sehingga berpotensi menghasilkan panen raya. Sebaliknya, pada musim hujan seperti sekarang, areal pertanian menjadi terbatas karena banyak lahan yang terendam air,” jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut menuntut petani untuk lebih adaptif dalam menentukan waktu tanam serta jenis komoditas yang dibudidayakan.

Dinas Pertanian Kabupaten HSU juga terus melakukan pendampingan dan pemantauan lapangan untuk meminimalkan risiko kerugian akibat banjir maupun perubahan cuaca ekstrem.

Selain padi sebagai komoditas utama, Haridi menyebutkan bahwa Kabupaten HSU juga mengembangkan berbagai komoditas pertanian lainnya guna mendukung ketahanan pangan daerah. 

Di antaranya adalah tanaman umbi-umbian seperti ubi jalar dan singkong, serta jagung manis yang dinilai memiliki nilai ekonomis dan potensi pasar yang cukup baik.

“Diversifikasi tanaman ini penting agar petani tidak hanya bergantung pada satu komoditas. Dengan menanam berbagai jenis tanaman, diharapkan ketahanan pangan daerah tetap terjaga sekaligus meningkatkan pendapatan petani,” tambahnya.

Sementara itu, Hanafi, salah seorang petani di wilayah Kecamatan Amuntai Tengah, mengaku bersyukur karena lahan pertanian yang ia kelola telah dipanen sebelum banjir melanda.

Menurutnya, panen lebih awal tersebut sangat membantu menghindari kerugian yang lebih besar akibat genangan air.

“Alhamdulillah panen sudah selesai sebelum banjir datang. Kalau terlambat sedikit saja, mungkin hasilnya bisa rusak atau gagal panen,” ungkap Hanafi.

Ia berharap ke depan adanya dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah, baik dalam bentuk pendampingan teknis maupun bantuan sarana pertanian, agar petani dapat lebih siap menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu.

Editor : Sutrisno
#Banjir #HSU #pertanian