BANJARMASIN — Sungai Gampa, sebuah perkampungan tua di ujung Banjarmasin Utara, kembali diuji banjir.
Air yang merendam wilayah ini bukan hanya menggenangi rumah warga, tetapi juga seolah menenggelamkan perhatian pemerintah.
Di kawasan yang dihuni sekitar 160 kepala keluarga (KK) tersebut, hampir 70 persen rumah warga terendam.
Akses jalan satu-satunya menuju permukiman pun tak luput dari genangan, dengan ketinggian air mencapai lebih dari setengah meter.
“Kalau malam hari, air di jalan bisa lebih dari selutut. Rumah-rumah di sini juga rata-rata rendah, sehingga air masuk sekitar 30 sentimeter,” ujar seorang ibu rumah tangga setempat yang enggan disebutkan namanya, Jumat (9/1/2025).
Kekhawatiran warga bukan hanya soal aktivitas yang lumpuh.
Saat malam tiba dan air kembali pasang, ancaman binatang liar ikut menghantui.
“Sudah beberapa kali ular masuk rumah. Meskipun bukan yang berbisa, tapi tetap saja takut,” katanya.
Ia mengaku kondisi tersebut membuat warga Sungai Gampa merasa terabaikan.
Hingga kini, belum ada pihak berwenang yang datang meninjau langsung dampak banjir di wilayah mereka.
“Setidaknya datanglah melihat kondisi kami di sini. Jangan hanya yang di kawasan kota saja yang diperhatikan,” harapnya.
Banjir juga memaksa warga berjalan kaki keluar perkampungan menuju kawasan kompleks yang lebih tinggi, tempat kendaraan mereka diparkir.
Kondisi ini sudah berlangsung hampir sepekan tanpa kepastian kapan air akan surut.
“Setiap hari seperti itu. Rata-rata warga di sini bekerja sebagai buruh serabutan dan petani. Dalam kondisi banjir seperti ini, aktivitas dan pekerjaan jadi terhambat. Airnya tidak kunjung surut, malam hari malah pasang lagi,” ujarnya.
Ketua RT 22 Sungai Gampa, Mulyadi membenarkan belum adanya pendataan maupun bantuan dari pemerintah.
Ia menduga wilayahnya kerap terlewatkan karena warganya dianggap sudah terbiasa hidup berdampingan dengan banjir.
“Belum ada bantuan atau peninjauan dari pemerintah. Padahal warga akan sangat senang jika ada bantuan sembako. Kami juga berharap akses jalan menuju perkampungan ini bisa ditinggikan agar mobilitas warga lebih mudah,” ucapnya.
Untuk bertahan, warga terpaksa menyiasati keadaan dengan membuat alas tidur lebih tinggi agar tetap bisa beristirahat di tengah genangan.
“Padahal saat pemilihan lalu, RT kami banyak memilih wali kota sekarang dan juga beberapa anggota DPRD. Tapi sampai sekarang belum ada perhatian,” pungkas Mulyadi.
Editor : Eddy Hardiyanto