Muhammad Syarkawi sekeluarga memilih tak mengungsi. Selain menjaga harta benda, ia juga harus memastikan gudang benih padi di rumah tetap kering.
Baca Juga: Wapres Gibran ke Sungai Tabuk, Janji Pada Warga Terdampak Banjir Akan Perbaiki Rumah
Air cokelat setinggi mata kaki masih menggenangi rumah Muhammad Syarkawi.
Sudah sepuluh hari banjir merendam permukiman di Jalan Sungai Lulut Dalam, Banjarmasin Timur.
Namun lelaki 70 tahun itu memilih bertahan, menolak mengungsi.
Baca Juga: Sakit di Pengungsian Banjir! Lansia di Sungai Lulut Dievakuasi Petugas ke Rumah Sakit
Banih masih disimpan dalam gudang di rumahnya (lumbung gabah).
Ini hasil panen padi dari jerih payah sekaligus tumpuan hidup keluarga.
Di ruang sempit yang tersisa itu, anak, cucu, dan istrinya terpaksa tidur berjejer di atas panggung kayu darurat.
Baca Juga: Lok Baintan Terisolir, Banjir Meluas di Kabupaten Banjar
Panggung itu menjadi satu-satunya tempat aman dari genangan air.
Malam hari, Syarkawi justru jarang memejamkan mata.
Ia berjaga, khawatir air kembali naik tanpa permisi.
Menurut Syarkawi, meninggalkan rumah bukan pilihan yang mudah.
Selain faktor usia, sumber mata pencaharian keluarga juga terancam jika ia pergi.
“Kalau ngungsi sebenarnya sulit, karena barang-barang tak mungkin lagi dipindahkan. Termasuk gudang harus tetap dijaga,” ujarnya, Kamis (8/1/2026) malam.
Kesulitan belum berhenti di situ.
Ratusan blek banih hasil panen belum sempat dijemur.
Lingkungan yang terus tergenang membuat proses pengeringan mustahil dilakukan.
Jumlahnya tidak sedikit. Sekitar 500 blek atau setara 3.000 liter banih masih tersimpan di rumah.
“Kita tahu daerah sini memang rawan banjir. Jadi panggung untuk benih padi itu sudah lebih dulu disiapkan,” tutur Syarkawi.
Namun, panggung kayu tak serta-merta menyelesaikan masalah.
Proses menggiling gabah pun terhambat karena akses sungai tak bisa dilalui.
“Tapi menggiling masih tidak bisa, sebab akses untuk membawa gabah biasanya ditempuh melalui sungai,” keluhnya.
Istri Syarkawi, Rahimah mengungkapkan dampak banjir terhadap dapur keluarga mereka.
Untuk bertahan hidup, bantuan menjadi andalan.
Jika tak ada, hasil panen yang seharusnya dijual terpaksa dikonsumsi sendiri.
“Kalau seperti ini belum bisa dijual. Pemasukan untuk belanja jadi tak ada, terpaksa dimakan sendiri,” ungkapnya.
“Sebab pemasukan sehari-hari memang dari hasil pertanian. Untuk kebutuhan dan uang saku cucu juga dari situ,” tambah Rahimah.
Banjir rob tak hanya memutus roda ekonomi warga, juga membawa ancaman kesehatan.
Penyakit kulit mulai menyerang, terutama akibat aktivitas harian di tengah genangan air.
Rahimah mengaku sering merasakan panas dan perih di sela-sela jari kaki.
“Rasanya panas, ini sudah banyak lecet. Salep memang diberi, jadi disempatkan untuk dipakai,” ucapnya.
Ketua RT setempat, Muaz menyebut hasil pendataan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sebanyak 177 kepala keluarga dengan 453 jiwa terdampak banjir.
Jumlah pengungsi pun masih berubah-ubah.
“Warga kerap bergantian mengungsi. Tapi yang kami utamakan lansia dan bayi karena tempat pengungsian masih terbatas,” sebut Muaz.
Editor : Eddy Hardiyanto