Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Lok Baintan Terisolir, Banjir Meluas di Kabupaten Banjar

M Fadlan Zakiri • Jumat, 9 Januari 2026 | 07:49 WIB
LUMPUH TOTAL : Desa Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Akses transportasi lumpuh total dilihat menggunakan drone pada Kamis (8/1/2026) siang.
LUMPUH TOTAL : Desa Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Akses transportasi lumpuh total dilihat menggunakan drone pada Kamis (8/1/2026) siang.

MARTAPURA – Genangan banjir terus meluas di Kabupaten Banjar. Salah satu wilayah yang paling parah adalah RT 03 Desa Lok Baintan Dalam, Kecamatan Sungai Tabuk. Sudah sepekan lebih terendam, hingga terisolasi.

Jalan utama di desa ini sudah tak bisa dilalui kendaraan bermotor. Lantaran ketinggian air mencapai lebih dari setengah meter. “Air luapan Sungai Martapura makin hari makin naik. Sekarang badan jalan utama sudah tidak bisa dilewati motor,” tutur Masruni, warga setempat, Kamis (8/1).

Masruni menerangkan, banjir membuat roda perekonomian warga benar-benar berhenti. Sawah dan kebun warga terendam, sementara akses transportasi hanya mengandalkan jalur yang tergenang cukup dalam. “Wilayah kami semakin sulit dijangkau, apalagi berbatasan langsung dengan Barito Kuala,” katanya.

Selain lumpuhnya aktivitas, warga juga mengeluhkan distribusi bantuan yang belum merata. “Bantuan yang sampai ke Desa Lok Baintan belum menjangkau semua warga terdampak,” keluhnya.

Keluhan serupa disampaikan Bahrun, warga lainnya. Menurutnya, dampak paling dirasakan adalah terputusnya akses jalan. Meski berisiko, warga tetap nekat melintas dengan motor karena tidak ada jalur alternatif. “Kondisi ini sangat menyulitkan, terutama anak-anak yang sekolah dan warga yang bekerja di luar desa,” ujarnya.

Bahrun menambahkan, bantuan dari kepala desa sempat diterima, namun jumlahnya masih terbatas. Sementara, warga mulai merasakan dampak serius terhadap kesehatan. “Hampir semua kena kutu air, termasuk anak-anak dan lansia,” sebutnya.

Sementara, berdasarkan data Pusdalops BPBD Kabupaten Banjar, hingga Rabu (7/1/2026) pukul 17.00 Wita, banjir melanda 12 kecamatan dengan total 135 desa dan kelurahan terdampak. Angka tersebut meningkat dibanding pembaruan sehari sebelumnya, Selasa (6/1/2026) pukul 16.00 Wita, yang mencatat banjir hanya terjadi di 9 kecamatan dengan 121 desa dan kelurahan terdampak.

Seiring meluasnya wilayah terdampak, jumlah warga yang terimbas juga bertambah. Data terbaru mencatat 135.704 jiwa terdampak, naik dari 118.151 jiwa pada hari sebelumnya. Sementara, jumlah kepala keluarga (KK) terdampak ikut meningkat dari 42.082 KK menjadi 48.876 KK.

Dampak terhadap permukiman warga juga berubah signifikan. Jumlah rumah terdampak melonjak dari 23.133 unit menjadi 32.789 unit. Namun, rumah yang masih tergenang justru menurun, dari 13.732 unit pada 6 Januari menjadi 8.577 unit pada 7 Januari.

Kondisi ini menunjukkan genangan mulai surut di sejumlah titik, meski secara geografis sebaran wilayah banjir justru bertambah. Wilayah dengan desa terdampak terbanyak masih berada di Kecamatan Astambul, Sungai Tabuk, Martapura, Martapura Timur, dan Kertak Hanyar.

Sisi lain, banjir juga berdampak serius pada kelompok rentan. Jumlah lansia terdampak meningkat dari 3.944 menjadi 4.468 orang. Kemudian jumlah anak-anak korban banjir juga bertambah dari 4.356 menjadi 4.770 orang, sementara ibu hamil naik dari 371 menjadi 425 orang.

Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar, Yudhi Andrea, menegaskan peningkatan jumlah wilayah dan warga terdampak menjadi perhatian serius pemerintah daerah. “Seluruh perangkat daerah terus kami kerahkan, mulai dari pendataan, distribusi bantuan, hingga pemantauan kondisi lapangan agar penanganan berjalan optimal,” tegas Yudhi, Kamis (8/1/2026) siang.

Meski genangan mulai berkurang di beberapa lokasi, potensi banjir susulan sebutnya masih perlu diantisipasi, seiring intensitas hujan yang masih tinggi di wilayah hulu. “Banjar berada di sistem sungai besar seperti Riam Kiwa dan Sungai Martapura. Saat hujan deras, aliran melambat dan air mudah meluap. Ini karakteristik alam yang harus kita kelola risikonya,” paparnya.

Dengan kondisi yang masih dinamis saat ini, masyarakat di wilayah rawan banjir diimbau tetap waspada terhadap potensi banjir susulan seiring tingginya curah hujan. “Mudah-mudahan setelah kunjungan Wapres tadi kondisi banjir bisa segera mereda,” harapnya.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Banjir #Banjar #bencana #Desa