BANJARBARU - Rencana kunjungan Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka ke lokasi banjir di Kabupaten Balangan dan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, mendapat sorotan dari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Kalimantan Selatan.
Mereka menegaskan, agar kehadiran Wapres ke Kalsel tidak berhenti pada agenda simbolik berupa empati dan penyerahan bantuan semata kepada warga terdampak.
Direktur Eksekutif WALHI Kalsel, Raden Rafiq menekankan, kunjungan pejabat negara ke wilayah terdampak banjir seharusnya menjadi momentum untuk membongkar dan menyelesaikan akar persoalan banjir yang selama ini terus berulang di Kalsel. “Kami menyambut rencana kedatangan Wakil Presiden ke Sungai Tabuk. Tetapi kunjungan negara tidak boleh hanya berhenti pada simbol empati dan bagi-bagi bantuan,” tekan Rafiq, Rabu (7/1).
Menurutnya, banjir yang berulang di Sungai Tabuk dan sejumlah wilayah lain di Kalsel bukan semata-mata bencana alam. Kondisi tersebut menurutnya, sebagai krisis ekologis akibat kerusakan lingkungan di wilayah hulu daerah aliran sungai (DAS).
Ia menyoroti masifnya alih fungsi hutan menjadi konsesi tambang dan perkebunan skala besar, serta lemahnya pengendalian tata ruang. Kondisi itu dinilai telah merusak daya dukung lingkungan, menghilangkan daerah resapan air, dan menyempitkan ruang hidup sungai.
“Sungai kehilangan ruang hidupnya, rawa dan daerah resapan hilang. Sementara aktivitas industri terus dilegalkan. Ini yang membuat banjir terus berulang,” cecarnya.
Seiring rencana kunjungan Wapres, pihaknya mendorong agar agenda tersebut jadi pintu masuk untuk mengevaluasi izin-izin bermasalah, khususnya di wilayah hulu DAS Barito dan anak-anak sungainya.
Pasalnya, WALHI menilai tanpa adanya moratorium tambang dan perkebunan di kawasan rawan banjir, serta tanpa upaya pemulihan ekosistem yang serius, risiko banjir akan terus menghantui masyarakat Kalsel.
Sisi lain pihaknya meminta agar suara masyarakat terdampak banjir, termasuk petani, nelayan sungai, dan warga bantaran, benar-benar dilibatkan dalam perumusan kebijakan penanganan banjir. “Mereka bukan hanya korban, tetapi saksi hidup atas perubahan bentang alam Kalimantan Selatan yang semakin rusak,” cetusnya.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief