KOTABARU- Stigma negatif yang sempat melekat pada RSUD Pangeran Jaya Sumitra (PJS) Kotabaru perlahan mulai terkikis.
Radar Banjarmasin melakukan pengecekan secara diam-diam ke rumah sakit plat merah tersebut pada Rabu (7/1) siang untuk melihat langsung perubahan pasca gelombang kritik masyarakat.
Hasilnya cukup mengejutkan. Pemandangan di lorong-lorong ruang perawatan hingga Instalasi Gawat Darurat (IGD) tampak jauh lebih manusiawi.
Jika pekan-pekan sebelumnya media sosial dipenuhi keluhan soal pelayanan yang dingin dan antrian yang banyak, kini suasana tampak lebih tertib tetap banyak dan penuh senyum dari para keluarga pasien.
Perubahan drastis ini merupakan buah manis dari evaluasi total yang dipicu oleh Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Kotabaru, Senin (5/1) lalu.
Saat itu, legislatif memberikan rapor merah dan instruksi keras agar manajemen rumah sakit melakukan reformasi mental petugas.
Di salah satu sudut ruang perawatan penyakit dalam Radar Banjarmasin masuk secara diam diam berbincang secara santai dengan Sabariah, warga Desa Bekambit Asri, Kecamatan Pulau Laut Timur.
Ia sedang setia menunggu keluarganya yang tengah berjuang pulih dari serangan stroke. Tanpa mengetahui identitas awak media yang sedang melakukan pemantauan diam-diam, Sabariah blak-blakan membandingkan pengalamannya dulu dan sekarang.
"Bedanya jauh sekali, Mas. Dulu kalau ke sini rasanya batin tertekan, tapi sekarang pelayanannya cepat dan petugasnya ramah-ramah. Tidak ada lagi perawat yang cuek atau ketus seperti yang sering viral itu," ungkap Sabariah.
Sabariah menceritakan pengalaman emosionalnya saat membawa keluarganya yang terkena serangan stroke secara mendadak.
Penanganan di IGD menurutnya tergolong kilat. Koordinasi antara bidan desa yang merujuk hingga petugas di rumah sakit berjalan mulus tanpa hambatan birokrasi yang berbelit-belit.
Namun, lompatan layanan yang paling membuatnya terkesan adalah di sektor farmasi. Praktik lama di mana keluarga pasien harus bolak-balik mengantri berjam-jam di apotek rumah sakit kini telah dipangkas habis.
"Sekarang kami tidak perlu lagi ke apotek dan berdesakan di antrian. Obat-obatan langsung diantar oleh petugas ke kamar perawatan. Ini sangat memudahkan kami yang hanya sendiri menjaga pasien di sini," tambahnya.
Sabariah, yang juga aktif memantau perkembangan berita, mengakui awalnya sempat was-was karena kabar buruk mengenai pelayanan rumah sakit ini sempat viral di media. Namun, setelah merasakan sendiri transformasi layanan ini, ia sangat mengapresiasi gerak cepat pemerintah daerah.
Secara terpisah, Direktur RSUD PJS Kotabaru, drg Adrian Wijaya, saat dikonfirmasi Radar Banjarmasin melalui sambungan telepon menegaskan bahwa perubahan ini bukan sekadar formalitas sesaat.
Ia berkomitmen melakukan evaluasi besar-besaran di seluruh lini, mulai dari dokter spesialis hingga tenaga administrasi dan farmasi.
"Ini adalah bentuk komitmen kami untuk mewujudkan visi misi Bupati Kotabaru, H Muhammad Rusli, dalam memberikan pelayanan kesehatan yang prima dan santun kepada masyarakat Bumi Saijaan," tegas drg Adrian.
Ia juga menyatakan bahwa pihak rumah sakit tetap membuka diri terhadap segala masukan maupun laporan terkait miskomunikasi di lapangan.
“Kami tidak anti kritik. Setiap laporan akan kami jadikan bahan evaluasi agar RSUD ini terus berbenah menjadi lebih baik kedepannya," pungkasnya.
Kini, RSUD Pangeran Jaya Sumitra sedang berupaya menghapus stigma rumah sakit ketus dan menggantinya dengan layanan yang tulus.
Bagi warga seperti Sabariah dan beberapa masyarakat yang dirawat lainnya keramahan petugas dan kemudahan akses obat adalah obat pertama yang mereka terima sebelum tindakan medis dilakukan.
Editor : Arif Subekti