BANJARBARU – Banjir kembali merendam Perumahan Terrace Pelangi, Kelurahan Landasan Ulin Timur, Kota Banjarbaru.
Debit air yang sempat surut, kini kembali meningkat sejak Selasa (7/1/2026) siang.
Memaksa warga bertahan di atas jembatan, dan mendirikan tenda darurat demi memantau kondisi rumah mereka.
Di perumahan ini tercatat sebanyak 58 kepala keluarga (KK).
Dari jumlah tersebut, 18 KK memilih mengungsi di tenda darurat yang didirikan di atas jembatan.
Sementara warga lainnya mengungsi ke Kantor Kelurahan Landasan Ulin Timur.
Salah satu warga terdampak, Faridah lebih memilih bertahan di atas jembatan dibandingkan di kantor kelurahan.
Lokasi tersebut dinilai lebih dekat, dan memudahkan warga memantau rumah.
“Lebih nyaman di sini supaya bisa langsung memantau rumah, melihat kondisi air apakah naik lagi atau turun,” ujar Faridah.
“Di kelurahan juga sudah penuh, banyak orang. Di sini nyaman saja meski dingin, sudah biasa,” katanya.
Hal serupa disampaikan Raila. Ia bersama warga lain mendirikan tenda secara swadaya menggunakan terpal seadanya.
“Kita bertenda saja, pakai terpal. Bisa langsung lihat kondisi air dan rumah,” ucapnya.
Menurut Raila, banjir sempat surut pada pagi harinya.
Sebagian warga mulai membersihkan rumah.
Namun, air kembali naik di siang harinya, dan bertahan hingga kini.
Sejumlah rumah kembali terendam. Beberapa ruangan, terutama kamar mandi, masih tergenang air.
“Di jalan sudah hampir sepaha. Di dalam rumah bervariasi, ada selutut,” ungkapnya.
Di lokasi pengungsian darurat, fasilitas MCK belum tersedia.
Warga terpaksa kembali ke rumah masing-masing untuk keperluan mandi dan buang air.
“Kalau untuk MCK, kami balik ke rumah masing-masing. Di sini tidak ada toilet atau MCK portable,” tambah Raila.
Selain itu, warga mengaku masih kekurangan bantuan, terutama obat-obatan dan kebutuhan anak-anak.
Sejumlah anak dilaporkan mulai mengalami demam, batuk pilek, hingga diare, serta membutuhkan popok dan susu.
“Yang dibutuhkan saat ini obat-obatan, vitamin, susu anak, dan pampers. Anak-anak sudah ada yang demam dan sakit,” ujarnya.
Penerangan di sekitar tenda pengungsian juga sangat terbatas.
Warga terpaksa menyambungkan listrik dari lampu jalan untuk penerangan malam hari.
Editor : Eddy Hardiyanto