BANJARMASIN - Sejumlah bangunan rumah di atas bantaran sungai di Banjarmasin didapati semakin menjorok ke tengah sungai.
Kondisi ini menjadi perhatian Dinas Perumahan dan Pemukiman (Disperkim) Kota Banjarmasin. Pasalnya akan berdampak rencana normalisasi sungai.
Kepala Disperkim Banjarmasin, Chandra menyebut mayoritas bangunan di atas bantaran ini bahkan berkembang tak beraturan. Terutama di kawasan yang tergolong kumuh. Mayoritas di Kecamatan Banjarmasin Selatan.
“Di sana ada Pemurus Dalam, Kelayan, yang memang padat penduduk. Tapi di Banjarmasin Utara juga ada seperti Kuin dan Alalak,” terangnya, Selasa (6/1/2025).
“Dia mengatakan, penanganan dan pengurangan kawasan kumuh di Banjarmasin terus dilakukan sejak 2022, melalui Bidang Permukiman, termasuk berkolaborasi dengan pemerintah provinsi dan pusat.
“Surat ketetapan tahun 2022 mencatat kawasan kumuh sekitar 508 hektare. Target penanganan 65 hektare pertahun. Saat ini sudah tertangani sekitar 210 hektare hingga 2025,” sebutnya.
Ia menegaskan, penanganan kawasan kumuh masih tersisa 298 hektare, dengan target penanganan dalam kurun waktu empan tahun ke depan.
Perihal rumah yang menjorok ke sungai, dia mengatakan sosialisasi terus dilakukan agar masyarakat tak menambah yang akan menghambat program normalisasi.
“Kami harap masyarakat bisa mematuhi. Karena akan menyulitkan normalisasi sungai,” tegasnya.
“Pembenahan infrastruktur tak beratur dikatakannya terus diupayakan. Selain itu, perbaikan akses jalan hingga sanitasi tidak layak turut didorong.
Editor : M Oscar Fraby