RANTAU – Pemerintah Kabupaten Tapin melalui Bappelitbang menyelesaikan kajian Rencana Induk Peta Jalan Pemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) 2025–2029.
Kajian ini menjadi pedoman pengembangan riset dan inovasi daerah guna mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat serta memperkuat daya saing wilayah.
Kabid Penelitian dan Pengembangan Bappelitbang Tapin, Mahdiati, mengatakan kajian tersebut disusun atas arahan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Tujuannya, agar pembangunan daerah berbasis riset dan inovasi berjalan terarah serta menjawab kebutuhan ekonomi lokal.
“Riset ini diarahkan untuk mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat, memperkuat ketahanan daerah, meningkatkan kemandirian, sekaligus memperbesar daya saing Kabupaten Tapin,” ujar Mahdiati, Selasa (6/1/2026).
Dalam peta jalan tersebut, Tapin menetapkan sejumlah sektor prioritas riset, yakni pertanian yang meliputi perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan. Selain itu, sektor pariwisata serta ekonomi kreatif juga menjadi fokus pengembangan.
Menurut Mahdiati, kajian ini banyak mengeksplorasi potensi dan produk unggulan daerah agar dapat dikembangkan secara terintegrasi. Penyusunannya pun melibatkan seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
“Ini bukan kerja satu dinas saja. Semua SKPD dilibatkan agar ke depan pengembangan produk unggulan daerah bisa berjalan selaras dan saling mendukung,” jelasnya.
Dalam proses penyusunan, Bappelitbang Tapin menggandeng Politeknik Tanah Laut. Kerja sama ini dilakukan karena Politeknik Tanah Laut dinilai memiliki pengalaman serta tenaga ahli yang kompeten, mengingat sebelumnya pernah menyusun kajian serupa di Kabupaten Tanah Laut.
Kajian peta jalan Iptek tersebut kini telah rampung. Tahap selanjutnya adalah menyiapkan regulasi pendukung, termasuk aturan turunan dari Perda potensi daerah, serta membangun forum komunikasi antar-SKPD untuk menyinkronkan pengembangan produk unggulan Tapin.
Namun demikian, Mahdiati mengakui masih terdapat sejumlah tantangan.
Di antaranya belum adanya perda yang secara khusus mendukung riset dan inovasi berbasis kebutuhan ekonomi lokal, keterbatasan infrastruktur dan fasilitas penelitian, keterbatasan kompetensi SDM, hingga belum tumbuhnya perusahaan pemula berbasis riset.
Selain itu, kemitraan dan kolaborasi riset dinilai masih minim, termasuk belum adanya institusi mitra yang aktif dalam riset pariwisata dan ekonomi kreatif.
Meski begitu, peluang pengembangan riset di Tapin dinilai cukup besar.
Dukungan kebijakan pemerintah pusat, potensi sumber daya alam yang melimpah, peluang investasi industri berbahan baku lokal, hingga ketersediaan anggaran riset menjadi modal penting.
“Ke depan yang diharapkan adalah adanya kebijakan daerah terkait riset dan inovasi, tersedianya pusat riset untuk sektor unggulan, peningkatan alokasi dana riset, tumbuhnya startup berbasis riset, serta peningkatan kerja sama nasional dan internasional,” jelas Mahdiati.
Editor : Arif Subekti