PELAIHARI – Hujan yang kembali mengguyur sejak Minggu sore hingga Senin (5/1/2026) pagi, membuat genangan banjir di sejumlah wilayah Kabupaten Tanah Laut (Tala) semakin meninggi.
Kondisi ini memaksa sebagian warga terdampak meninggalkan rumah dan mencari tempat yang lebih aman.
Hingga Senin pagi, setidaknya satu lokasi telah difungsikan sebagai tempat pengungsian, yakni Pondok Pesantren (Ponpes) Ubudiyah di Kecamatan Bati-Bati.
Ratusan warga mulai memadati lokasi tersebut, dan jumlah pengungsi diperkirakan masih akan bertambah seiring hujan yang belum menunjukkan tanda-tanda reda.
Berdasarkan data sementara, sekitar 150 jiwa telah mengungsi di Ponpes Ubudiyah.
Kondisi cuaca yang masih buruk memunculkan kekhawatiran akan adanya gelombang pengungsian susulan.
“Saat ini total pengungsi di tempat kami sebanyak 150 jiwa. Melihat kondisi cuaca seperti ini, kemungkinan jumlahnya masih akan bertambah,” ujar Muhammad Habibi, Koordinator Posko Peduli Banjir Ponpes Ubudiyah.
Habibi menjelaskan, para pengungsi berasal dari tiga desa, yakni Desa Benua Raya dan Desa Bati-Bati di Kecamatan Bati-Bati, serta Desa Kalibesar di Kecamatan Kurau.
Dari Desa Kalibesar saja, tercatat sekitar 13 kepala keluarga (KK) mengungsi.
Warga Kalibesar mulai berdatangan sejak Kamis lalu.
Awalnya hanya beberapa orang. Namun jumlahnya meningkat signifikan pada Sabtu.
Menariknya, sebagian pengungsi harus menempuh jalur sungai untuk mencapai lokasi pengungsian.
“Mereka datang menggunakan kelotok atau jukung, memanfaatkan aliran sungai yang menghubungkan Kalibesar dengan Bati-Bati,” jelas Habibi.
Saat ini, para pengungsi ditempatkan di tiga lokasi utama di lingkungan Ponpes Ubudiyah, yakni rumah pegawai yang sedang kosong di samping gedung majelis taklim, gedung tahfiz, serta gedung TPA/TQA.
“Jika nanti ada pengungsi tambahan, kami sudah menyiapkan asrama putra. Total kapasitas tampung di sini sekitar 500 jiwa,” tambahnya.
Selain menyiapkan tempat tinggal sementara, pihak Ponpes Ubudiyah juga telah mengoperasikan dapur umum sejak Kamis lalu, meski awalnya masih dalam skala terbatas.
Sejak Sabtu, dapur umum mulai menyediakan makanan siap santap dalam jumlah lebih besar.
“Sekitar 150 bungkus nasi sudah kami bagikan kepada para pengungsi,” pungkas Habibi.
Editor : Eddy Hardiyanto