BANJARMASIN – Genangan banjir di wilayah perbatasan Kota Banjarmasin kembali meninggi.
Di Kelurahan Sungai Lulut, tepatnya Jalan Rahayu, Komplek Pembina 4 Ujung, RT 8, puluhan warga terpaksa mengungsi setelah air terus naik hingga hampir selutut orang dewasa.
Salah seorang pengungsi, Masitah mengaku banjir kali ini menjadi yang terparah dalam dua pekan terakhir.
Ia bersama keluarganya sudah dua hari meninggalkan rumah demi keselamatan.
“Banjir semakin tinggi, bahkan sudah selutut saya,” ujar Masitah, Minggu (4/1/2026).
Banjir juga melumpuhkan aktivitas ekonomi warga.
Sejumlah kepala keluarga tidak dapat bekerja karena akses lingkungan terputus genangan air.
“Harapannya ada bantuan sembako seperti beras, mi, telur, yang instan-instan saja. Supaya bisa tetap memasak,” harapnya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarmasin, Husni Thamrin menjelaskan banjir yang melanda sejumlah wilayah kota merupakan banjir kiriman dari daerah hulu.
Kondisi Sungai Lulut yang berada di kawasan perbatasan Kabupaten Banjar membuat wilayah ini menjadi titik rawan.
“Ini jadi titik perhatian dan prioritas untuk penanganan banjir. Terutama banjir kiriman,” tegas Thamrin.
Di kawasan Jalan Rahayu, Kompleks Pembina 4 Ujung, RT 8, BPBD mencatat sebanyak 15 kepala keluarga dengan total 33 jiwa telah dievakuasi ke posko pengungsian. Dalam waktu singkat, ketinggian air naik hingga 13 sentimeter.
“Sempat ada warga yang menolak dievakuasi, tapi kami beri pemahaman. Kalau air semakin dalam tentu lebih berbahaya,” jelasnya.
BPBD Kota Banjarmasin terus bersiaga mengantisipasi potensi banjir susulan.
Warga diminta segera melapor jika debit air kembali meningkat.
“Kita selalu bersiaga dan menerima laporan warga. Kalau sudah tinggi tentu harus segera dievakuasi,” tegas Thamrin.
Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin turun langsung meninjau lokasi terdampak, sekaligus menyalurkan bantuan kepada warga.
Ia menegaskan Sungai Lulut menjadi perhatian serius pemerintah kota.
“Airnya sudah hampir selutut orang dewasa. Jadi warga memang harus dievakuasi ke tempat lebih tinggi,” ujar Yamin.
Sebagai langkah jangka panjang, Pemko Banjarmasin berencana melakukan normalisasi sungai di kawasan perbatasan.
Tercatat ada lima sungai yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjar.
“Ini perlu penanganan kolaborasi,” kata Ketua DPC Gerindra Banjarmasin ini.
Menurut Yamin, banjir di Kota Seribu Sungai tidak hanya dipengaruhi pasang laut, tetapi juga kiriman dari daerah tetangga.
Karena itu, penanganan sungai harus dilakukan secara terintegrasi lintas wilayah.
“Normalisasi dan revitalisasi sungai harus berkolaborasi dengan kabupaten tetangga agar sungai saling terintegrasi,” tuturnya.
Selain menyalurkan bantuan logistik seperti selimut dan kebutuhan dasar, Yamin juga menginstruksikan camat dan lurah setempat mendirikan dapur darurat bagi warga pengungsi.
“Tadi disalurkan bantuan selimut dan kebutuhan lainnya. Tidak seberapa, tapi mudah-mudahan bisa meringankan warga terdampak,” ujarnya.
Ia menegaskan kondisi di Sungai Lulut menjadi peringatan dini bagi wilayah rawan banjir lainnya di Banjarmasin.
BPBD diminta terus siaga dan siap melakukan evakuasi kapan pun dibutuhkan.
“Kepada petugas di lapangan, saya minta selalu berkoordinasi dan tetap siaga,” tutup Yamin.
Editor : Eddy Hardiyanto