Irama rebana bertalu pelan, berpadu dengan shalawat yang dilantunkan khusyuk, menciptakan suasana religius yang kian mengental di tengah padatnya jemaah.
Meski ribuan jemaah memadati lokasi, suasana tetap tertib dan hening. Tak ada hiruk-pikuk. Yang terdengar hanya lantunan shalawat, tabuhan rebana, serta cahaya lampu malam yang temaram—membingkai kekhusyukan dan nuansa syahdu majelis.
Ketika syair Mahalul Qiyam dikumandangkan, jutaan jemaah serempak berdiri. Suasana yang sebelumnya tenang berubah menjadi momen penuh emosi. Pujian kepada Nabi Muhammad SAW menggema, disambut linangan air mata dari jemaah yang larut dalam rasa haru dan cinta mendalam.
Anak-anak hingga orang dewasa berdiri berdampingan, menyatu dalam irama shalawat yang sama. Di barisan tengah, sejumlah perempuan tampak tak kuasa menahan tangis—tangan terkatup di dada, kepala tertunduk, bibir bergetar mengikuti syair.
Salah seorang jemaah, Qomariah (25), asal Sungai Tabuk, mengatakan momen tersebut bukan sekadar pembacaan Maulid Habsy, melainkan ruang spiritual yang hidup.
“Dalam tradisi majelis rutin 5 Rajab, Maulid Habsy punya makna tersendiri. Apalagi ini berkaitan langsung dengan sosok almarhum Muhammad Zaini bin Abdul Ghani,” ujarnya.
Menurutnya, pembacaan Maulid Habsy menjadi sarana menumbuhkan mahabbah kepada Rasulullah SAW, sekaligus mempererat ikatan batin antarsesama jemaah.
Ia menyebut Mahalul Qiyam sebagai momen paling sakral dan selalu dinanti karena di sanalah ekspresi cinta dan penghormatan dipanjatkan sepenuh hati.
Majelis rutin 5 Rajab malam itu pun menjelma lebih dari sekadar agenda keagamaan—menjadi ruang perjumpaan spiritual, tempat rindu, harap, dan doa menyatu dalam lantunan syair.
“Bagi kami, suasana seperti ini adalah ruang untuk melepas rindu dan menitipkan doa bersama,” pungkas Qomariah. (*)
Editor : M. Ramli Arisno