MARTAPURA– Arus kedatangan jemaah 5 Rajab melalui jalur air terus berlangsung menuju kawasan Sekumpul, Kabupaten Banjar.
Namun, hingga pukul 12.00 WITA, jumlah perahu yang tiba tercatat masih lebih rendah dibandingkan pelaksanaan haul tahun sebelumnya.
Data sementara Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Banjar mencatat sekitar 1.400 unit perahu telah merapat membawa ribuan jemaah melalui Sungai Martapura.
Angka tersebut berada di bawah capaian tahun lalu yang mencapai sekitar 1.500 unit perahu pada waktu yang sama.
Kepala Dishub Banjar, I Gusti Nyoman Yudiana, mengungkapkan bahwa penurunan tersebut tidak lepas dari faktor teknis di lapangan, terutama kondisi Sungai Martapura yang sedang tinggi.
“Kondisi sungai saat ini cukup tinggi, sehingga perlu perhatian khusus. Beberapa perahu dengan spesifikasi besar tidak bisa melintas di bawah Jembatan Anggulung,” ujarnya kepada awak media, Minggu (28/12/2025) petang.
Keterbatasan lintasan tersebut membuat sejumlah armada air harus berhenti sebelum jembatan, dan tidak dapat melanjutkan perjalanan langsung menuju titik-titik yang lebih dekat ke kawasan Sekumpul.
Kondisi tersebut jadi salah satu pertimbangan sebagian jemaah, yang akhirnya beralih menggunakan jalur darat.
Sebagai solusi, Dishub Kabupaten Banjar mengoptimalkan dermaga yang telah dibangun sejak tahun lalu di sekitar Jembatan Anggulung.
Dermaga tersebut difungsikan sebagai titik turun jemaah untuk kemudian melanjutkan perjalanan melalui jalur darat.
“Di sekitar Jembatan Anggulung sudah tersedia dermaga. Jemaah bisa naik ke daratan dengan aman, lalu melanjutkan perjalanan,” jelas Nyoman.
Selain faktor ketinggian sungai, pasang surut air juga disebut memengaruhi kelancaran pelayaran perahu.
Kondisi ini membuat pengaturan waktu kedatangan armada menjadi lebih terbatas dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Namun, lanjut Nyoman, data hingga tersebut belum bersifat final. Arus kedatangan jemaah melalui jalur air diperkirakan masih akan berlanjut hingga sore dan malam hari.
“Kedatangan belum selesai. Masih ada yang datang nanti sore sampai malam. Data akan terus kami perbarui,” tambahnya.
Mayoritas jemaah yang menggunakan jalur air berasal dari wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, seperti Sampit, Pangkalan Bun, Kapuas, hingga Barito Kuala.
Bahkan sebagian di antaranya tetap memilih jalur sungai meski harus menempuh perjalanan panjang.
Terkait aspek keselamatan, Nyoman mengonfirmasi adanya satu insiden kecil yang terjadi beberapa hari yang lalu.
“Ada seorang jemaah sempat terjatuh ke sungai, namun berhasil dievakuasi dengan cepat dan dalam kondisi selamat,” ujarnya.
Meski demikian, Nyoman memastikan Dishub Banjar bersama unsur terkait, akan tetap memastikan pengawasan dan pengamanan jalur air.
“Karena komitmen kami memang untuk menjamin keselamatan seluruh jemaah yang datang melalui Sungai Martapura,” pungkasnya. (*)
Editor : M. Ramli Arisno