Mereka menempuh perjalanan hingga 11 jam melalui jalur sungai untuk menuju Martapura dengan menggunakan kelotok.
Salah satunya adalah Fathan, jemaah asal Kabupaten Katingan. Bersama rombongan, ia berangkat sejak pagi hari dari Desa Sungai Kaki.
Menurutnya, jalur sungai dipilih karena menjadi satu-satunya akses yang memungkinkan menuju Martapura, mengingat keterbatasan jalur darat yang tidak dapat dilalui kendaraan roda empat.
“Kalau lewat darat tidak bisa. Dari dulu memang lewat sungai, sudah jadi kebiasaan setiap tahun,” ujar Fathan menceritakan, Jumat (26/12) sore.
Selama perjalanan, kelotok melintasi sejumlah perkampungan dan daerah aliran sungai.
Meski memakan waktu cukup lama, tambah Fathan, suasana kebersamaan antarjemaah membuat perjalanan terasa lebih ringan.
Ia mengungkapkan, kondisi cuaca yang mendukung turut membantu kelancaran perjalanan rombongan menuju Sekumpul. Tidak ada kendala berarti yang dihadapi selama menyusuri sungai.
“Alhamdulillah cuaca bagus. Walaupun lama, capeknya tidak terlalu terasa karena niat kami memang untuk 5 Rajab,” katanya.
Menurut Fathan, mengikuti momen 5 Rajab Sekumpul melalui jalur sungai sudah menjadi rutinitas yang dijalani selama lima tahun terakhir.
Menurutnya, perjalanan yang dialuinya itu sudah biasa bagi para jemaah dari wilayah Katingan dan Sebangau, Kalimantan Tengah.
“Kami selalu berangkat bersama pakai transportasi sungai,” ujarnya
Tahun ini, tercatat sekitar delapan kelotok diberangkatkan dari wilayah tersebut dengan membawa kurang lebih 150 orang jemaah menuju Martapura.
Setibanya di Martapura, rombongan jemaah memilih beristirahat dan bermalam di rumah-rumah warga sebelum mengikuti rangkaian kegiatan momen 5 Rajab di Sekumpul.
“Kami menumpang istirahat di rumah warga,” pungkas Fathan. (*)
Editor : M. Ramli Arisno