Curah hujan tinggi menyebabkan sungai-sungai meluap, merendam ribuan rumah warga dan melumpuhkan aktivitas masyarakat.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kalimantan Selatan, Kabupaten Banjar menjadi salah satu daerah terdampak terparah.
Baca Juga: Zahra Dilla Dicekik Oknum Polisi di Dalam Mobil, Jasad Dibuang di Dekat Kampus STIHSA
Hingga Kamis (25/12/2025), banjir tercatat merendam 2.363 rumah, dihuni 2.598 kepala keluarga (KK) atau 6.464 jiwa.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar, Yayan Daryanto, mengatakan banjir melanda 26 desa di lima kecamatan, yakni Martapura, Martapura Barat, Martapura Timur, Astambul, dan Sungai Tabuk.
“Selain rumah warga, banjir juga menggenangi fasilitas umum, perkantoran, tempat ibadah, sekolah, hingga akses jalan sepanjang kurang lebih lima kilometer,” ujarnya.
Baca Juga: Pintu Dapur Terbuka, Balita 1,5 Tahun Hilang Diduga Jatuh ke Sungai
Kelompok rentan ikut terdampak. Data sementara BPBD Banjar mencatat 458 lansia, 310 balita, 141 bayi, 273 anak-anak, 51 ibu hamil, dan 37 penyandang disabilitas berada di wilayah terdampak banjir.
Angin Puting Beliung Rusak 27 Rumah
Di tengah banjir yang belum surut, cuaca ekstrem juga memicu angin puting beliung di Kabupaten Banjar.
Baca Juga: Tak Ingin Absen Sekolah, Tasya Nekat Terobos Banjir Rob di Pemurus Dalam
Angin kencang menerjang tiga desa di dua kecamatan, yakni Desa Melayu (Martapura Timur), serta Desa Tuan Ilir dan Desa Benua Anyar (Astambul).
“Hasil pendataan kami, total 27 rumah mengalami kerusakan, dengan tingkat kerusakan ringan hingga berat,” jelas Yayan.
Kerusakan terbanyak terjadi di Desa Melayu dan Desa Tuan Ilir, masing-masing 13 rumah terdampak.
Baca Juga: BNNK Tala Catat Penurunan Peserta Rehabilitasi Narkoba
Sementara di Desa Benua Anyar tercatat satu rumah rusak. Mayoritas kerusakan terjadi pada atap dan dinding rumah yang terlepas akibat terjangan angin.
BPBD Banjar bersama tim reaksi cepat, TNI, Polri, serta pemerintah kecamatan dan desa terus melakukan pemantauan lapangan dan pendataan warga terdampak.
“Kami tetap mewaspadai potensi banjir dan genangan susulan, mengingat intensitas hujan masih tinggi. Pemantauan terus dilakukan untuk memastikan keselamatan warga,” tegasnya.
Baca Juga: Jemaah 5 Rajab Sekumpul Berpotensi Melonjak Tajam Tahun Ini
Akses Jalan Sekumpul Tergenang
Menjelang peringatan 5 Rajab Sekumpul, banjir turut berdampak pada akses jalan. Jalur alternatif Martapura–Sungai Tabuk dilaporkan tergenang di sejumlah titik, dengan luapan sungai meluber ke badan jalan dan berpotensi menyebabkan kendaraan mogok.
“Air makin terasa meluap ke jalan. Mudah-mudahan cepat surut,” ujar seorang warga di Jalan Martapura Lama, Desa Teluk Selong Ilir, Martapura Barat.
Sementara itu, banjir di Desa Teluk Selong Ulu belum menunjukkan tanda-tanda surut. Genangan yang berlangsung sejak pertengahan Desember mulai berdampak pada kesehatan warga, terutama penyakit kulit seperti gatal-gatal dan iritasi, khususnya pada anak-anak dan lansia.
Salah satu warga, Komariah, mengatakan banjir tahunan kali ini terasa lebih berat karena durasi genangan yang lama. “Airnya lama surut, jadi kami terus-terusan terendam,” ujarnya.
Sekretaris Desa Teluk Selong Ulu, Bahrul Ilmi, menjelaskan banjir mulai terjadi sejak 13 Desember 2025.
Baca Juga: Libur Kuliah Berujung Duka, Kampus FEB ULM Serahkan Kasus Tewasnya Mahasiswi Akuntansi ke Polisi
Ketinggian air di jalan mencapai sekitar 50 sentimeter, dengan 286 rumah terendam dan 385 KK terdampak. Hingga kini belum ada warga yang mengungsi.
“Pelayanan pemerintahan desa tetap berjalan meski kantor desa ikut terendam,” katanya. Ia menambahkan, bantuan kesehatan telah disalurkan, termasuk pembagian salep dan obat-obatan dari puskesmas dan dinas kesehatan. (*)
Editor : M. Ramli Arisno