Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Korban Trauma Banjir, Psikolog Ingatkan Pemko Banjarmasin Tak Lupakan Penanganan Pascabencana

Zulvan Rahmatan • Minggu, 14 Desember 2025 | 15:15 WIB

 

Salasiah, lansia 72 tahun, kerap tak bisa tidur jika banjir rob mengepung rumahnya di Jalan Kelayan B, Banjarmasin Selatan.
Salasiah, lansia 72 tahun, kerap tak bisa tidur jika banjir rob mengepung rumahnya di Jalan Kelayan B, Banjarmasin Selatan.
 

BANJARMASIN - Banjir tak hanya merendam rumah dan merusak harta benda, tapi berpotensi meninggalkan trauma bagi para korban.

Analisis ini diungkap psikolog dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Rika Vira Zwagery.

“Bencana berdampak pada manusia di segala usia, termasuk lansia, tingkatannya bisa berbeda-beda,” ujarnya, Minggu (14/12).

Dalam kasus ini, Rika menyoroti kasus Nenek Salasiah yang trauma kala banjir rob mengepung rumahnya di Jalan Kelayan B, Kelayan Timur, Banjarmasin Selatan.

Ia menilai lansia lebih rentan karena kemampuan berpikirnya sudah cenderung menurun. Maka tak heran saat dihadapkan pada situasi menegangkan seperti banjir mengakibatkan syok.

“Emosinya mulai tidak stabil dan menurun, sehingga berisiko tinggi terhadap stres, kesedihan, dan kehilangan. Mereka sangat terdampak,” ucapnya.

Maka tak heran, lansia, perempuan dan anak-anak menjadi prioritas dalam penanganan pascabencana. Rika melihat kondisi Nenek Salasiah berpotensi mengarah pada trauma.

“Kondisinya kembali mengulang perasaan dan ingatan yang sama. Saya tidak menemui langsung, tapi kalau dari ceritanya, beliau trauma terhadap bencana,” jelasnya.

Ketakutan terhadap bencana memang wajar, tapi dalam kasus Nenek Salasiah, sedikit saja air sungai pasang, dia langsung panik tak keruan. Maka Rika mendorong adanya penanganan oleh psikiater.

“Setidaknya membantu mengurangi, karena trauma itu akan keterusan pada saat situasi banjir dan turun hujan deras,” kata akademisi asal Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) ULM ini.!

Rika menegaskan, pemko jangan mengabaikan aspek penanganan psikologis korban pascabencana.

“Siapa saja termasuk relawan pascabencana perlu diberikan pelatihan dukungan psikologis awal, jadi semua orang bisa membantu walau awam. Atau ikut sertakan kolaborasi tenaga profesional,” tegas Rika.

Diberitakan sebelumnya, Nenek Salasiah selalu waswas ketika banjir rob melanda. Jika tahu air mulai naik, ia kerap panik, meminta perabot dan perkakas dipindahkan ke atas. Sampai-sampai Salasiah tidak bisa tidur.

Beberapa tahun lalu, ia bersama almarhum suami terbangun pada tengah malam ketika air sudah merendam rumah dan tempat tidurnya.

Kaget bukan kepalang, pasangan uzur itu hampir terendam. Dalam hitungan menit, air naik dengan cepat. Perabot dan barang elektronik banyak yang rusak.

Malam itu, Selasa (9/12) dini hari, Salasiah hanya duduk di kursi plastik di depan rumah, terjaga hingga pukul 02.30 Wita.

Dengan pendengaran yang mulai berkurang, untuk berkomunikasi, Salasiah mesti dibantu cucunya.

“Aku takut sekali kalau hujan turun terus. Jadi tidak bisa tidur. Bila musim banjir tiba, di sini pasti kena,” ujarnya kepada wartawan.

Jika banjir tak kunjung surut, ia enggan masuk ke dalam, pintu rumah pun tak pernah ditutup, tak jarang Salasiah begadang hingga hari terang.

Ketika banjir sudah surut, baru perempuan 72 tahun itu bisa tidur dengan tenang.

“Aku khawatir. Jika air dalam aku menangis karena barang-barang rumah pasti hancur. Mesin cuci hadiah anakku rusak terendam banjir,” ungkapnya.

Di usia senja, Salasiah memang tinggal seorang diri sejak suaminya meninggal beberapa tahun lalu. Pada musim banjir jelang akhir tahun, anak dan cucu Salasiah kerap datang menemani.

“Kalau banjir tahunan di sini pasti kena, yang dikhawatirkan cuma nenek karena memang tinggal sendirian. Kalau sudah begini, kami sering menginap untuk berjaga,” tutur Muhammad Fikriannor, cucu Salasiah.

Fikri sampai hafal, tak sampai 15 menit, rumah neneknya bisa kebanjiran setinggi lutut orang dewasa.

“Jadi mungkin beliau trauma terhadap banjir. Nenek takut kalau terjebak dan tidak bisa lari ke mana-mana, karena jalannya sudah susah dan pendengarannya berkurang,” terang pemuda 22 tahun ini.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarmasin memperingatkan masyarakat Banjarmasin untuk mewaspadai banjir rob susulan.

 

Editor : Muhammad Syarafuddin
#BPBD #banjarmasin #kelayan #ULM #Banjir Rob #psikolog